18 Januari 2012

Rajo

oleh Bonardo Maulana

Hari ini, berita itu sampai kepada saya. Rajo mati. Tubuhnya penuh luka, dari tombak dan mimis. Di pergelangan kakinya, bau logam dari jerat yang mencerabutnya dari keluasan dunia begitu menyengat.

Saya membayangkan ia menahankan kesakitan yang tak tepermanai itu dengan keteguhan yang tak terdefinisikan. Di sana, di sebuah ruang perawatan sebuah pusat konservasi hewan di Cisarua, saya membayangkan lenguhannya yang nyaris habis meledakkan hati para juru rawat. Saya membayangkan, ia menegaskan kediriannya pada hidup yang cuma sebentar: “Aku di ambang ajalku. Tapi jangan suntikkan morfin itu, sebab perih yang membungkus tubuhku ini menandakan bahwa aku masih hidup.” read more »

18 November 2011

Perjalanan

oleh Bonardo Maulana

Bayangkanlah Anda tengah berlama-lama mematut diri di muka kaca namun tidak untuk mengagumi sepasang mata yang cerlang, atau bahkan hidung yang bangir sempurna itu.

Bayangkanlah Anda memandangi bayangan itu pada cermin namun tidak untuk mengeluhkan gigi yang rumpang, atau rambut yang tak kunjung bisa diatur.

Bayangkanlah Anda sedang menekuri kaca untuk sekadar mengamati dengan khusyuk garis-garis tipis yang nyaris tak tampak yang seakan-akan hadir begitu saja di kening dan membatin, “kulihat pada garis-garis itu diriku pada masa laluku, suatu titik tempat aku berangkat. Kurasakan, kini, pada garis-garis itu, aku giat meniti mimpi-mimpi tergilaku.”

Pada proses yang mungkin sepele itu, Anda sedang menjadi seorang peziarah: seseorang yang tak mengenal kata berhenti untuk mengenali dirinya, atau bahkan menyusun gambar bagi tujuan-tujuan hidupnya. Seorang peziarah percaya bahwa cara terbaik mendekati masa depannya yang tak pernah teramalkan adalah menjalani kekinian dan menghormati kelampauan dengan penuh seluruh. Seorang peziarah percaya bahwa satu-satunya gerbang menuju masa depan adalah kesanggupan memelihara ingatan. Ia menolak lupa. Sebab sebuah perjalanan yang didasarkan pada buruknya ingatan sungguh bisa menyesatkan. read more »

24 Oktober 2011

Ingatan

oleh Bonardo Maulana

Foto: koleksi pribadi

Tak ada orang yang tak gentar dengan menjadi tua. Bayangan itu begitu jelas dalam kepala: mata yang tak lagi awas, kulit yang kehilangan sifat plastis, hidup sendirian, atau bahkan kehilangan ingatan. Yang terakhir itu begitu bikin ngeri. Sebab, ketika ingatan raib dari diri kita, kita sebenarnya tak lagi ada.

Saya teringat sebuah kisah dari karya seorang penulis Jepang, Haruki Murakami, yang bercerita tentang hubungan seorang anak muda gelisah yang kabur dari rumah, dan perempuan di pertengahan usia 40 yang mengelola sebuah perpustakaan pribadi. Dalam novel berjudul “Kafka on the Shore” itu, kedua karakter digambarkan menyimpan riwayatnya masing-masing sebelum akhirnya muncul momen yang mempertemukan keberbedaan itu.

Kafka Tamura, sang pemuda berumur 15 tahun, mencari cinta oedipal. Dilandasi hubungan kompleks, ia teramat yakin bahwa Nona Saeki, sang perempuan, adalah ibunya. Kafka jatuh cinta kepada perempuan itu, yang secara ganjil selalu ia rasakan memasuki kamarnya untuk memandangi sebuah lukisan yang tergantung di dekat meja belajar. Namun, anehnya, wujud Nona Saeki adalah gadis yang sebaya dengannya. read more »

28 Mei 2011

“Jabang Tetuko”: Ringkas Durasi, Pangkas Detail

oleh Bonardo Maulana

Adegan dalam "Jabang Tetuko" (foto: vivanews.com)

Tak ada yang pernah mudah dalam seni pertunjukan di Indonesia. Padahal, di satu sisi, negeri ini adalah sebuah lokus yang kiranya tak pernah benar-benar kekeringan ‘bahan mentah’ – hasil dari peleburan tiada henti tradisi-tradisi kebudayaan dunia.

Namun, dari kesulitan mengembangkan bidang itu, karya-karya terpuji pernah muncul: “Dongeng dari Dirah” (Sardono W. Kusumo), “The Iron Bed” (Garin Nugroho), dan, termutakhir, “Matah Ati” (Atilah Soeryadjaya), untuk menyebut beberapa.

Ketiga karya itu berlandaskan kisah-kisah yang sudah lama beredar. Sardono mencomot legenda janda dari Desa Dirah sebagai model; Garin, menoleh pada epos Ramayana; sedangkan Atilah meminjam biografi Raden Mas Said serta kekasihnya, Rubaiyah. Maka, setelah ketiga pendahulu itu, kemunculan sineas Mirwan Suwarso dengan “Jabang Tetuko,” layak ditunggu dengan penuh debar. read more »

Kaitkata: ,
18 Mei 2011

Metamorfosa Sasha Grey

oleh Bonardo Maulana

Sasha Grey (scrapetv.com)Tidak ada yang baru di bawah matahari. Pun, tak ada yang sama sekali abadi di kolong langit. Keabadian milik tuhan belaka, kata orang alim, bukan makhluk berdarah dan berdaging seperti manusia. Maka hal biasa jika seorang bintang film, baik top maupun kapiran, memutuskan mengubah jalan karir.

Sang bintang itu bernama Sasha Grey.

Terlahir sebagai Marina Ann Hantzis pada 14 Maret 1988, Grey punya nama besar di industri film porno Amerika Serikat. Terjun ke jagat film ‘panas’ sejak usia 18 tahun, ia telah membintangi lebih dari 150 film, membawa beberapa judul seperti “Sasha Grey’s Anatomy,” “House of Sex and Domination,” dan “Teenage Whores,” ke dalam daftar film unggulan pada genre porno, dan ditahbiskan sebagai aktris terbaik pada ajang Adult Video News Awards tahun 2008, termuda dalam sejarah anugerah itu.

Ia menyebut dirinya ‘aktris pertunjukan,’ seperti dirilis Los Angeles Times pada tahun 2009. Selain itu, ia tak ragu menyiapkan film dokumenter, menggarap novel grafis, serta menulis sebuah buku tentang ‘filosofi seks’. Pada tahun 2009 pula Grey mendirikan rumah produksi yang bertujuan ganda: mengubah wajah pornografi sekaligus memberdayakan perempuan. read more »

Kaitkata: ,
13 Mei 2011

Cinta di Panggung Miring

oleh Bonardo Maulana

Pertunjukan tari "Matah Ati"

Jay Subiyakto tahu cara mengemas pementasan menjadi suatu peristiwa. Dengan kecakapan menerjemahkan gagasan sekaligus visi tajam, ia tak ragu mengubah panggung ‘tradisional’ menjadi lebih kompleks dan berdimensi majemuk. “Usaha keras perlu bagi pentas yang bagus,” tukasnya.

Kejeliannya menyiasati ruang dapat Anda nilai pada pertunjukan tari “Matah Ati” yang akan berlangsung pada 13-16 Mei, 2011, pukul 20.00 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Bermakna secara harfiah “melayani hati sang pangeran,” naskah “Matah Ati” serta koreografi tari dikerjakan oleh Atilah Soeryadjaya, cicit Sultan Mangkunegara VII.

Jika maestro penataan artistik pentas Indonesia, Rudjito, menganggap bahwa sederhana itu indah, Jay agaknya memilih menjauh dari pandangan itu. Kompleksnya tata panggung garapannya mensyaratkan presisi tinggi seorang tukang dan perhitungan matang seorang dokter. Dan demi memberikan penekanan kuat pada sisi artistik, ia menyiapkan instalasi tak kalah memikat demi mengisi panggung. Kematangan rancangan lantas menghasilkan sebuah panggung yang teramat berwarna, seperti karnaval. read more »

4 Mei 2011

Miyabi, Sasha Grey, dan Film Indonesia Kiwari

oleh Bonardo Maulana

Poster film "Akibat Hamil Muda" (film-erotis.blogspot.com)

Film Indonesia kiwari kian kehilangan kepercayaan diri. Seakan menihilkan keberhasilan “Laskar Pelangi”, “Pintu Terlarang”, atau “Ada Apa dengan Cinta”, untuk menyebut beberapa karya, publik pencinta gambar hidup di tanah air secara bertubi-tubi dijejalkan puluhan film yang mengeksploitasi tubuh dan sensualitas.

Mari simak deretan judul berikut: “Hantu Puncak Datang Bulan”, “Pelukan Janda Hantu Gerondong”, “Suster Keramas 2″, “Pocong Mandi Goyang Pinggul.” Mengeja kata-kata itu, bukan salah Anda jika terkenang dekade 1990an, wahai penonton budiman: sebuah masa yang ramai oleh film-film semi-porno.
Siapa pernah lupa Taffana Dewi dalam “Gairah Malam”, atau Sally Marcellina di “Misteri Janda Kembang”? Nama mereka, bersama judul-judul film lain yang bikin cemas seperti “Akibat Hamil Muda” atau “Pergaulan Ranjang Memikat”, nyaris selalu muncul pada iklan bioskop di surat kabar.

Reaksi masyarakat terhadap film-film semacam itu memang tidak selalu tunggal seperti layaknya tabiat film itu sendiri, yang menghendaki munculnya multitafsir. Sebagian orang masih menikmati sebagai tontonan, yakni hiburan di kala senggang demi melenyapkan kejenuhan. Banyak pula yang melontarkan caci-maki sonder bangunan argumen yang masuk akal. Bahkan, mungkin, ada juga kaum yang sudah kadung antipati tanpa pernah menonton. read more »

Kaitkata: , ,
29 April 2011

Pangeran di Singgasana Media Sosial

oleh Bonardo Maulana

Pangeran William dan Kate Middleton (zimbio.com)

Tengoklah linimasa Twitter hari ini. Ia melulu didominasi oleh informasi mengenai hal-ihwal perkawinan anggota keluarga Kerajaan Inggris. Simaklah “Trendings” sambil termangu: #royalwedding; William & Kate; Westminster Abbey; Buckingham Palace. Untuk sementara, para remaja Indonesia, yang dikenal dengan sebutan ‘abege’, boleh lenyap sebentar dari daftar ‘topik panas’, yang kerap direbut-curi pada waktu-waktu tak terduga.

Agaknya, pengaruh pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton dalam ranah media sosial seperti Twitter serupa dengan daya gedor Barack Obama di jejaring sosial digital semasa masa kampanye kepresidenan di Amerika Serikat pada tahun 2008. Obama, yang pernah mengeluh karena perangkat BlackBerry miliknya dalam pengawasan negara, berhasil menyiasati teknologi Web 2.0, yang kini mendasari media sosial, demi merengkuh massa pada akar rumput.

Leslie Walker di About.com menulis bahwa sehari sebelum acara perkawinan berlangsung, halaman Facebook ‘British Monarchy’ mendapatkan ‘jempol’ 379.478 kali, yang memang masih jauh dari pendapatan Obama, yang mencatat ‘penggemar’ sebanyak 19,6 juta. Di Twitter sendiri, kicauan tentang persiapan pernikahan disampaikan langsung oleh akun resmi kediaman Pangeran William @ClarenceHouse. Akun ini memiliki pengikut sebanyak 50.042 sementara Obama dikuntit 7,5 juta pengguna. read more »

18 April 2011

Rakus

oleh Bonardo Maulana

Ilustrasi Arjuna dan Sri Kresna dalam Bharata Yudha (wayang.wordpress.com)

Syahdan, di padang Kurusetra, pangeran karismatik Pandawa, Arjuna, terperosok dalam keraguan dan dilema moral menjelang perang besar melawan sepupu-sepupunya dari pihak Kurawa. Sri Kresna yang pengasih dan pandai menyusun kata tak tinggal diam. Ia berbicara kepada Arjuna, dengan nada santun namun penuh penekanan, tentang kewajiban yang mesti dijalani Arjuna sebagai seorang ksatria. Pada salah satu baris, Kresna menegaskan, “Ada tiga gerbang menuju neraka, yakni nafsu, amarah, dan keserakahan. Ketiganya penuh daya hancur dan harus dihindari.”

Arjuna mengangguk seraya tetap memandangi tanah yang akan basah oleh darah itu. Pikirannya berkelana ke masa-masa ketika Pandawa dan Kurawa masih dalam keriangan kanak. Setiap hari adalah permainan. Dan seperti lazimnya permainan, kegembiraan ‘melakukan’ bisa melampaui prinsip menang-kalah.

Pengalaman masa lalu mungkin membuat Arjuna tak mengerti kenapa Kresna seakan-akan hanya mengarahkan filosofi itu ke Kurawa. Benar bahwa Pandawa, termasuk Arjuna, mengalami pembuangan selama 13 tahun akibat perjudian. Namun, itu tak lepas dari ‘keteguhan’ Yudhistira mengikuti alur yang telah dirangkai oleh Sengkuni. Jadi, sesungguhnya, perang saudara itu sendiri sesungguhnya akibat ketidakmampuan Yudhistira menahan nafsu berjudi. read more »

Kaitkata:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.