Hari ini, berita itu sampai kepada saya. Rajo mati. Tubuhnya penuh luka, dari tombak dan mimis. Di pergelangan kakinya, bau logam dari jerat yang mencerabutnya dari keluasan dunia begitu menyengat.
Saya membayangkan ia menahankan kesakitan yang tak tepermanai itu dengan keteguhan yang tak terdefinisikan. Di sana, di sebuah ruang perawatan sebuah pusat konservasi hewan di Cisarua, saya membayangkan lenguhannya yang nyaris habis meledakkan hati para juru rawat. Saya membayangkan, ia menegaskan kediriannya pada hidup yang cuma sebentar: “Aku di ambang ajalku. Tapi jangan suntikkan morfin itu, sebab perih yang membungkus tubuhku ini menandakan bahwa aku masih hidup.” read more »







