Mencari Majapahit ke Timur Jawa

by Bonardo Maulana

Kolam Segaran

Matahari sedang tinggi. Kulit saya menakar suhu saat itu ada di sekitar 35-37º C. Tapi orang masih asyik lalu-lalang menumpang motor atau berjalan kaki. Di tengah udara lembab, saya dan seorang kawan seperjalanan tengah menekuri sebuah kolam berair tenang. Airnya tak bisa dibilang jernih. Ada yang tetap tekun memandangi permukaannya: Seorang lelaki, dan perempuan di tengah umur empat puluhan. Sang lelaki memegang pancing, sementara si perempuan gesit melempar jala.

 

“Cari ikan apa, Bu?” tanya kawan saya. Yang ditanya hanya tersenyum dan membersihkan jalanya dari kotoran. Ada seekor-dua ikan berusaha berkelit dari keruwetan anyaman tali. Tiga orang bocah berusia sekitar 6-10 tahun mengelilingi perempuan itu, mengamati tangan ibu mereka yang gesit memilah ikan dari lumpur. Sesekali, wajah-wajah gosong bocah-bocah itu menantang lensa kamera saya seakan-akan menunjukkan kegairahan mereka akan cahaya matahari. Sementara di seberang mereka, si lelaki belum lagi beranjak dari posisinya semula. Saya tidak tahu apakah ia masih terjaga, atau menerbangkan imajinasinya ke ruang lain.

 

Tak ada yang istimewa dengan aktivitas mereka. Berburu ikan di kolam mana pun sudah sewajar menanam pohon buah-buahan di lahan apa saja. Satu-satunya hal yang mungkin jadi perhatian adalah sejarah kolam itu. Jika kita maklum akan latar belakang kolam itu, pasti kita akan meruapkan sedikit kekecewaan. Sebabnya, ia adalah bagian dari kisah kerajaan besar yang pernah ada di nusantara.


Nama kolam itu Segaran. Letaknya di Desa Trowulan, Kabupaten Mojokerto, situs yang paling gampang untuk dikunjungi dari semua situs Majapahit yang terdapat di daerah ini. Dari jalan raya propinsi Mojokerto – Jombang, jaraknya sekitar  500 meter ke arah selatan. Pertama kali ditemukan oleh Henri MacLaine Pont, seorang arsitek kenamaan Hindia Belanda keturunan Buru dan Eropa, pada tahun 1926, kolam ini berukuran panjang 375 meter, lebar 175 meter, tebal tepian 160 centimeter dengan kedalaman 288 centimeter. Selama musim hujan, air setinggi 150-200 cm selalu memenuhi kolam. Pembatas kolam terbuat dari batu bata yang cara merekatkannya digosokkan satu sama lain. Kolam diduga berfungsi sebagai waduk dan penampung air dan merupakan wujud kemampuan Kerajaan Majapahit akan teknologi bangunan basah.

 

Salah satu kisah yang diturunkan selama beberapa generasi tentang kolam itu adalah tentang perkakas emas yang terkubur di dalamnya. Konon, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mengadakan pesta besar karena kedatangan duta dari Tiongkok, angkatan perang negeri Tartar. Raja menyuguhkan hidangan dengan perkakas dari emas, dari nampan, piring sampai sendok. Para tamu puas dan menilai bahwa Majapahit memang negara besar yang patut dihormati. Setelah pesta usai, sebelum para tamu pulang, Hayam Wuruk ingin memperlihatkan kekayaan kerajaan. Semua perkakas itu dibuang ke Kolam Segaran. Karena benda-benda itu terkubur begitu lama, keberadaannya dikuasai makhluk gaib. Untuk mengangkat harta karun itu bukan persoalan gampang karena harus berhadapan dengan lelembut yang menguasai benda-benda tersebut.

 

Hingga kini, sering tersebar kabar ada pemancing atau penjala yang menemukan piring dan sendok emas sebagai tangkapan mereka. Namun, karena ketiadaan ‘ilmu’, maka barang-barang itu raib sebelum sempat dikoleksi.
Tak jauh dari kolam itu, sekitar 30 meter ke arah selatan, ada bangunan megah dua lantai yang ditahbiskan sebagai Pusat Informasi Majapahit (Museum Trowulan). Museum secara resmi dibuka pada tahun 1987. Bangunan museum ini mencakup lahan seluas 57.625 meter persegi dan menampung koleksi Museum Trowulan lama serta berbagai arca batu yang sebelumnya disimpan di Museum Mojokerto.

 

Ketika kami memasuki areanya, tak ada satu pun kendaraan yang terlihat parkir di halaman. Petugas jaga bilang museum akan buka jam satu siang selepas salat Jumat. Kami disarankan berjalan-jalan ke halaman belakang tempat beberapa koleksi museum dipajang di paviliun tak bertembok. Dari jalan setapak, kami bisa melihat tumpukan batu bata, genting, dan arca. Saya terkesiap ketika mata menumbuk sebuah pohon bertinggi sekira 5 meter berbuah hijau seperti apel malang. Hanya, buah itu lebih besar. Tak salah lagi. Itu pasti buah maja. Buah itu bagian dari suku jeruk-jerukan yang tahan lingkungan keras tetapi daunnya mudah luruh. Dalam mitos mengenai asal nama kerajaan Majapahit, mungkin ada sedikit kekeliruan. Konon, Raden Wijaya, sang pendiri kerajaan, menerima sebidang tanah di daerah Tarik (sekarang di selatan Surabaya). Sewaktu membangun daerah itu, ada prajuritnya yang memakan buah maja. Kebetulan yang dimakan adalah buah yang berasa pahit (karena mungkin masih mengkal), hal yang berujung pada penamaan Majapahit.

 

Di sebelah utara bangunan utama museum, ada proyek rekonstruksi struktur bangunan kota lama yang telah lama terbengkalai. Seorang penjaga museum mengatakan bahwa sebuah plaza akan dibangun di dekatnya. Ketika saya bertanya tentang kemungkinan rusaknya situs, dia mengatakan pemilik modal telah menyewa ahli-ahli arkeologi untuk memperkirakan keberadaan struktur bangunan sehingga pendirian plaza takkan mengenainya.

Pengatur air - Museum Trowulan

Beranjak dari situ, kami menuju ke utara kolam, tempat Warung Nasi Wader Segaran. Di antara masyarakat sekitar, warung ini teramat populer, terutama berkaitan dengan sambalnya yang pedas dan segar. Sambal mentah itu akan jadi pasangan harmonis ikan wader yang digoreng garing. Ikan-ikan kecil seukuran jari kelingking itu ditaburkan di atas piring tanah (cowek) kecil bersama sambal tadi. Sebagai lalapan, disertakan irisan ketimun, daun kemangi, dan kubis.  Wader adalah jenis ikan air tawar yang mudah ditemui di sungai berair jernih,  kolam dan waduk. Ia memangsa berbagai jenis makanan seperti serangga air, lumut, telur ikan lain, bahkan telur wader lain. Wader yang digoreng garing, seperti di warung nasi itu, bikin ketagihan.

 

Tak terasa dua jam kami habiskan di situs bersejarah sekitar Kolam Segaran. Tujuan kami selanjutnya Gapura Wringin Lawang, yang lokasinya berada di dukuh Wringin Lawang, Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, kurang dari 1 kilometer arah timur dari Kolam Segaran. Gapura agung ini terbuat dari bahan bata merah dengan luas dasar 13 x 11 meter dan tinggi 15,5 meter. Diperkirakan dibangun pada abad ke-14. Gerbang ini lazim disebut bergaya “Candi Bentar” atau tipe “gerbang terbelah”. Gaya arsitektur seperti ini diduga muncul pada era Majapahit dan kini banyak ditemukan dalam arsitektur Bali. Kebanyakan sejarawan sepakat bahwa gapura ini adalah pintu masuk menuju kompleks bangunan penting di ibu kota Majapahit. Banyak spekulasi mengenai fungsi asli bangunan ini. Salah satu yang paling populer adalah gerbang ini diduga menjadi pintu masuk ke kediaman Mahapatih Gajah Mada.

 

Hanya kami berdua yang ada di sekitar kompleks gapura pada Jumat siang itu. Jalan masuk ke gapura dari jalan raya diapit rumah-rumah berhalaman bersih. Butuh kira-kira 5 menit berjalan kaki dari jalan raya ke pintu gerbang kompleks. Sebelum memasuki jalan kecil itu, kita bisa mampir menyaksikan para pematung bekerja. Bunyi pahat beradu dengan batu mau tak mau membawa saya terbang ke zaman ketika emporium ini masih berdiri 7 abad lampau. Keahlian para pemahat itu mungkin saja diturunkan oleh nenek moyang mereka, para insinyur penggubah kota kerajaan.

 

Tak banyak yang dapat dinikmati dalam kompleks itu kecuali sepasang konstruksi menjulang terbuat dari batu bata. Di muka gapura, hanya ada plang bertuliskan “Cagar Budaya Gapura Wringin Lawang.” Ada jalan setapak selebar 3 meter menuju tangga gapura. Pot-pot bunga dipajang berbaris mengikuti jalan. Saya tak mengerti apa fungsinya. Yang pasti, bau dupa menyesaki udara sekitar gapura.

 

Tidak ada informasi lebih jauh mengenai gapura ini. Padahal, untuk kota yang tanahnya kemungkinan besar menyimpan struktur kota lama sebuah kerajaan besar, informasi itu amat penting. Hal yang sama juga bisa kita lihat di Kolam Segaran. Absennya informasi yang memadai membuat kolam itu kehilangan ‘nilai historis.’

Wringin Lawang - Trowulan

Trowulan merupakan ibukota Kerajaan Majapahit dan beberapa penggalian di kota itu menyibak sebuah kota yang telah melengkapi diri dengan sistem drainase, daerah permukiman, candi, pasar, makam, dan bahkan bendungan. Tapi jarang sekali tempat itu disebut dalam buku panduan pariwisata. Agaknya, hal ini akibat dari minimnya informasi. Calon pelancong kebingungan untuk mengeksplorasi situs budaya yang berserakan di sana – hambatan yang kami temui pula.

 

Cara mencapai tempat itu juga kurang terolah. Kota besar yang letaknya paling dekat adalah Surabaya, namun tak ada transportasi langsung ke Trowulan. Orang mesti menaiki bis jurusan Solo dan minta diturunkan di Trowulan.

 

Majapahit adalah kerajaan besar nusantara yang berbasis di Jawa pada tahun 1293 hingga 1500. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350- 1389), kerajaan itu mencapai era keemasan, dengan wilayah jajahan yang mencakup negara-negara Asia Tenggara. Dengan kemasyhuran yang begitu dipuji, sungguh mengherankan memandang Trowulan, yang disebut-sebut dalam Negarakertagama karya Mpu Prapanca dan sumber dari Cina pada abad ke-15, sebagai sebuah daerah yang tak kental mewarisi keagungan masa silam. Kita tak menemui vitalitas yang sama yang bisa dirasakan ketika memasuki Yogyakarta, misalnya, atau Palembang, kota-kota tempat kerajaan tua pernah jaya.

 

Blitar

 

Di Gapura Wringin Lawang, kami hanya singgah sejenak. Sebelum keluar dari lokasi, seorang penjaga menghampiri kawan saya dan mengajaknya masuk ke pos dekat gerbang. Di sana, ia ditawari buku yang berisi tentang lokasi situs-situs lain. Harganya Rp 20 ribu, meski tak ada label harga tercetak di sampul. “Mau ke mana lagi, Pak?” tanyanya. “Blitar,” jawab kawan saya. Kami memang akan ke Candi Penataran. Dari Mojokerto, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sana sekitar 3 jam. Semoga gerbang Penataran masih terbuka, sebab jika tak ada aral, kami akan tiba di tujuan pukul 5.30 sore. Hujan membuat irama melodis pada atap mobil dalam perjalanan kami ke Blitar.

 

“Pak, kita sudah sampai,” tegas Pak Dodi, sopir yang menemani perjalanan. Saya melihat arloji. “Apa masih sempat?” tanya saya. “Itu masih ada yang jaga, Pak. Masuk aja,” katanya meyakinkan. Sudah hampir maghrib. Cahaya dari matahari di ujung barat juga nyaris pergi. Kami tergesa masuk ke dalam. “Sebentar saja, Pak, untuk ambil gambar,” pinta kami kepada juru informasi candi. “Isi buku tamu dulu, Pak,” katanya. Rekan saya ke dalam dan mengisi buku tamu dan, lagi-lagi, ditawari buku tentang riwayat candi.

 

Candi ini berjarak 10 km sebelah utara kota Blitar. Naskah lama mengenalnya sebagai Palah. Pembangunannya berjalan selama 2,5 abad, pada masa pemerintahan dua kerajaan, Kediri dan Majapahit. Raja Hayam Wuruk, seperti ditulis dalam Negarakertagama, kerap mengunjungi tempat ini. Bahkan, salah satu bangunan utama di kompleks percandian itu dibangun pada masa pemerintahannya.

Candi Penataran - Blitar

Pemandangan dari candi itu sungguhlah menakjubkan. Gradasi warna yang berujung pada Gunung Kelud menghasilkan lanskap brilian. Seandainya kami tiba di sana tepat sebelum senja, mungkin kami akan melihat matahari tenggelam dengan elok.

 

Hal yang kentara dari Candi Penataran adalah relief-relief yang terukir di dindingnya, yang menawarkan banyak kisah. Salah satu relief bercerita tentang lembu dan buaya. Konon, seekor buaya tiba-tiba kerobohan sebatang pohon. Untung ia berada di suatu tempat berlubang sehingga masih sempat menyelamatkan diri. Seekor lembu jantan tak lama lewat di depannya dan dimintai pertolongan. Lembu jantan tidak keberatan dan berhasil mengangkat pohon yang tumbang tersebut. Karena tempat buaya di lautan, maka ia meminta lembu jantan mengantarnya. Berbilang waktu, akhirnya mereka sampai di tengah laut. Punuk lembu tiba-tiba saja ia gigit. Lembu jantan hampir kalah karena laut bukan alamnya. Kemudian kancil datang dan berlaku sebagai wasit perkara (tidak digambarkan dalam relief). Buaya dikembalikan ke tempat semula sewaktu kerobohan pohon dan ditinggal sendirian, menuju ajal.

 

Ikonografi relief pada Candi Penataran punya kekhasan yang membedakannya dari candi-candi di Jawa Tengah dari sebelum abad ke-11 seperti Candi Prambanan. Wujud relief manusia digambarkan mirip wayang kulit, seperti yang bisa dijumpai pada gaya pengukiran yang ditemukan di Candi Sukuh, suatu candi dari masa akhir periode Hindu-Buddha dalam sejarah Nusantara. Lembaga PBB untuk kebudayaan, Unesco, memasukkan candi ini dalam daftarnya sejak tahun 1995. Berdasarkan catatan yang ada, pemilihan lokasi candi kemungkinan besar berkaitan dengan ancaman yang muncul dari Kelud. Artinya, keberadaannya dapat berfungsi sebagai penolak bala.

 

Jika anda memiliki waktu cukup lama di Blitar, Anda bisa sekaligus mengunjungi makam Soekarno, Pantai Tambakrejo, Pantai Serang (sering mengadakan upacara larung sesaji), atau Pantai Jolosutro yang berombak indah. Makam Soekarno terletak 2 km ke arah utara pusat kota Blitar. Cerita beredar di sana bahwa ketika Gunung Kelud meletus pada tahun 1990, hanya makam Soekarno saja yang tak terkena abunya. Sementara, Serang adalah pantai berpasir putih yang sering digunakan untuk memperkirakan datangnya bulan Ramadhan dan menentukan Hari Raya Idhul Fitri. Lalu, Pantai Tambakrejo, 30 km dari kota Blitar, membentang sepanjang 10 km. Sekitar pantai ditumbuhi hutan karet. Anda juga dapat menjajal perahu yang tersedia untuk mengantar Anda lebih jauh ke arah lautan.

 

Tengger, Bromo

 

Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul 7. Jarak Blitar – Malang sekitar 77 km dapat ditempuh dalam waktu paling lama 2 jam. Menuju Malang, saya sempat mengagumi jalan-jalan di Blitar yang bersih dan rapi. Di kota ini pernah lahir seorang lelaki karismatik yang turut mengubah jalan bangsa. Sayang kami tak bisa lama-lama di kota itu. Selain karena waktu yang mepet, Pak Dodi yang mengantar kami juga sudah mulai terlihat lelah.

 

Kami sampai di Hotel Tugu Malang pukul 9.30 malam. Para abdi hotel yang ramah menunjukkan tempat kami menginap, yakni Raden Saleh Suite. Atmosfer masa silam sungguh menggigit kami setibanya di hotel itu. Kami pun terkejut ketika tahu bahwa mebel dan perkakas yang ada di kamar ini sebagian besar berasal dari zaman ketika pelukis besar Indonesia itu hidup.

Pembeli edelweiss

Pagi pun menjelang. Kami telat untuk berangkat lebih pagi demi melihat matahari terbit dari Gunung Penanjakan, di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Tapi itu tak menyurutkan semangat kami karena tujuan semula ke Malang adalah mengunjungi permukiman para keturunan pangeran Majapahit yang tinggal di pegunungan Tengger yang terpencil. Orang-orang Tengger berbicara bahasa Jawa arkhais dengan dialek Tengger.  Mereka sebagian besar beragama Hindu. Mereka hidup dari hasil bercocok tanam dan mengembara.

 

Menurut cerita, Putri Roro Anteng (anak dari Raja Brawijaya) dan suaminya Joko Seger melarikan diri dari serbuan pasukan Islam ke suatu tempat persembunyian di Gunung Bromo. Di sana mereka mendirikan kerajaan baru bernama Teng-ger, kependekan dari nama mereka masing-masing. Kerajaan itu mendapat kemakmuran dan agama yang mereka anut berkembang. Namun, mereka tak memiliki penerus tahta. Lalu, mereka menyepi dalam tapa di Bromo selama beberapa hari hingga kawah terbuka dan Sang Hyang Widi Wasa muncul memberi kabar. Mereka bisa memiliki anak. Tapi, yang terbungsu harus dikorbankan.

 

Gunung Bromo berjarak sekitar 60 km dari kota Malang. “Sekitar dua jam, pak” jawab sopir kami ketika ditanya tentang durasi perjalanan. Cuaca di kota sedang baik. Tapi, cuaca cerah itu tak mencerminkan hal yang sama di pegunungan. Apalagi, kala itu pulau Jawa sedang dilanda perubahan cuaca yang ekstrim.

 

Jalan menuju Bromo tak bikin  jenuh. Sejauh mata memandang, hanya terlihat punggung pegunungan dan samudera hijau dedaunan, mengingatkan saya akan jalur menuju Kaliurang, Yogyakarta. Hanya saja, jalan ke puncak Bromo ini lebih kecil dan hanya pas untuk satu mobil. Melalui jalan yang meliuk-liuk di lereng pegunungan, saya melihat mendung menggantung di puncak sana. Mobil yang kami tumpangi pun mulai terguyur gerimis. Udara dingin seakan-akan menembus dinding kendaraan.

Kawah Bromo, Gunung Batok, Gunung Semeru dilihat dari Penanjakan (gambar diambil dari mbiru.com)

Setelah lebih dari dua jam, kami akhirnya tiba di Cemara Lawang. Kabut tebal dan rinai hujan menghalangi pandangan ke Pura Poten di dekat Gunung Batok dan kaki kawah Bromo. Kami memutuskan berteduh di sebuah kedai kecil untuk memesan secangkir kopi. Namun, setelah hampir satu jam, air dari angkasa tak juga jeda. Saya memutuskan untuk berjalan-jalan dalam lindungan sweater ke belakang kedai. Rupanya, ada lahan pertanian di sana, yang dibelah oleh jalan tanah berpagar pinus.

 

Rumah para penduduk bagai mengambang pada kabut. Tiupan angin menyampirkan dingin-tajam ke kulit. Itulah sebagian kampung Tengger, tempat mereka yang bertani tinggal dan meneruskan hidup. Seperti lukisan minimalis Jepang, kampung terendam kabut itu seperti ingin menyeret kita ke kearifan masa lalu yang kian langka.

 

Tidak ingin terlalu terperosok jauh ke dalam kontemplasi itu, saya akhirnya mengajak rekan yang masih rehat di dalam kedai untuk berangkat ke pura. Namun, niat itu tertahan sebentar karena ada sepasang pelancong asal Perancis bagian selatan yang menanyakan beberapa menu makanan. “What iz nasi rawon?” katanya antusias. Mereka sudah ada di sekitar kawah sejak pagi untuk melihat sunrise dari atas Gunung Penanjakan. Dalam kesempatan itu, mereka juga menunjukkan foto-foto ketika di atas. “They’re really beautiful,” kata si perempuan. “I almost cried up there,” tambahnya. Mereka singgah sebentar di kawasan Bromo dalam perjalanan menuju Bali dari Yogyakarta. Dalam paket wisata yang ditawarkan oleh banyak agen, kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru memang biasa diimbuhkan sebagai lokasi transit dalam perjalanan Yogyakarta-Bali.

 

Pasangan itu kemudian pamit, dan kami dapat meluncur ke lokasi. Kami memutuskan naik ojek. “Rp 25 ribu pulang-pergi, pak,” kata si tukang ojek. Ia berumur sekitar akhir dua puluhan. “Saya menikah dengan perempuan Islam,” katanya, “karena itu saya pindah dari desa leluhur saya.” Kini, di Tengger, perkawinan antar-agama sudah hal biasa. Banyak pemuda pun kini tak meneruskan lagi usaha orang tua mereka bercocok tanam. Rata-rata memilih jadi pemandu atau membuka usaha transportasi seperti ojek. “Lebih mudah melewati pasir pas sedang hujan begini, Pak,” katanya, “pasirnya jadi lebih keras.” Saya mengangguk sambil menahan gigil. Sementara tak jauh di depan, Pura Poten sudah mulai nampak. Gunung Batok di belakangnya terlihat sabar mengawalnya. Sementara di sisi lain, kawah Bromo tak lelah menembakkan asapnya ke udara.

 

Pura Luhur Poten merupakan situs penting bagi suku Tengger yang tersebar di Ngadisari, Wonokitri, Ngadas, Argosari, Ranu Prani, Ledok Ombo dan Wonokerso. Ketika kejayaan Majapahit luntur, mereka mulai menyingkir ke pinggiran gunung agar terhindar dari penetrasi asing, khususnya Islam dan Kristen. Di pura itu, mereka mengagungkan Ida Sang Hyang Widi Wasa, dan dewa trimurti (Siwa, Brahma, Wisnu). Pada tanggal 7 September tiap tahunnya, komunitas suku Tengger di Desa Ngadisari memperingati Yadnya Kasada. Ribuan peziarah membopong beras, bunga, buah-buahan, sayur-mayur, dan hewan korban untuk dipersembahkan ke kawah Bromo, sebagai peringatan atas pengorbanan Roro Anteng dan Joko Seger atas anak bungsunya.

 

Di dekat pura itu, ada sebuah kedai kecil yang menawarkan minuman hangat dan kudapan. Kawan saya naik ke bibir kawah, sementara saya memilih duduk-duduk di kedai sambil mengamati penduduk asli yang bersenda-gurau di sana. Wajah mereka begitu tegar, seakan-akan cermin kerasnya kehidupan di pegunungan itu. Ketika bercerita, mata mereka menjadi nyala tersendiri, menghidupkan kisah. “Dapat berapa hari ini,” kata si ibu penjaja kepada lelaki di belakang saya. Lelaki itu hanya terlihat mata dan jari tangannya belaka, sementara bagian tubuh lainnya tertutup kain.

 

“Lumayan,” jawabnya. Dia menjual bunga edelweiss kepada para pengunjung. Harga tertinggi bisa menyentuh Rp 20 ribu. Sementara, jika anda beruntung, bunga itu akan dilepas seharga Rp 5.000. “Mereka dari Ranu Kumbolo (Semeru). Berangkat jam 7, sampai sini jam 5,” kata ibu itu. Saya memandangi lelaki itu dan bunga-bunga langka yang diusungnya. Ajaran agama yang mereka serap didominasi Buddha Mahayana, yang menyarankan keseimbangan hidup, dan kesalingtergatungan antar-unsur di dunia. Tapi mungkin desakan ekonomi dan timpangnya persebaran kesempatan memaksa mereka mencerabut tanaman langka itu dari habitatnya.

 

Hujan belum lagi usai, sementara kawan saya masih ada di bibir kawah. Pengojek yang mengantar kami sudah menghampiri. “Sebentar, pak, kawan saya masih di atas,” kata saya. Sementara, kawah Bromo makin liar meniupkan asapnya ke belukar kabut. Entah sampai kapan.

 

*Pernah dimuat di sebuah majalah perjalanan