Ingatan

oleh Bonardo Maulana

Foto: koleksi pribadi

Tak ada orang yang tak gentar dengan menjadi tua. Bayangan itu begitu jelas dalam kepala: mata yang tak lagi awas, kulit yang kehilangan sifat plastis, hidup sendirian, atau bahkan kehilangan ingatan. Yang terakhir itu begitu bikin ngeri. Sebab, ketika ingatan raib dari diri kita, kita sebenarnya tak lagi ada.

Saya teringat sebuah kisah dari karya seorang penulis Jepang, Haruki Murakami, yang bercerita tentang hubungan seorang anak muda gelisah yang kabur dari rumah, dan perempuan di pertengahan usia 40 yang mengelola sebuah perpustakaan pribadi. Dalam novel berjudul “Kafka on the Shore” itu, kedua karakter digambarkan menyimpan riwayatnya masing-masing sebelum akhirnya muncul momen yang mempertemukan keberbedaan itu.

Kafka Tamura, sang pemuda berumur 15 tahun, mencari cinta oedipal. Dilandasi hubungan kompleks, ia teramat yakin bahwa Nona Saeki, sang perempuan, adalah ibunya. Kafka jatuh cinta kepada perempuan itu, yang secara ganjil selalu ia rasakan memasuki kamarnya untuk memandangi sebuah lukisan yang tergantung di dekat meja belajar. Namun, anehnya, wujud Nona Saeki adalah gadis yang sebaya dengannya.

Kian hari cinta itu kian kuat. Hingga pada suatu hari, Kafka nekat mengungkapkan perasaannya.

Nona Saeki tak terkejut. Sebab, dalam satu atau dua hal, ia merasa tak terpaut jauh dengan Kafka. Ada sesuatu di masa lalu yang menautkan mereka. Kafka bukan tak mengerti itu. Ia tahu: penampakan Nona Saeki gadis ketika memasuki kamarnya adalah penjelmaan ketaksadaran sang Nona, yang memilih hidup di masa lalu. Dan kita tahu, masa lalu pada kisah mereka disimbolkan oleh lukisan di kamar itu.

Demikian Nona Saeki berkata pada Kafka pada suatu malam ketika ia merasa sudah harus berpisah dengannya: “Ingatan itu menghangatkan kita dari dalam, tetapi di sisi lain juga mencerai-beraikan.” Dan dari situ masalahnya terbuka. Nona Saeki nyatanya pernah menjalin hubungan dengan sangat intim dengan seorang lelaki ketika mereka masih seusia Kafka. Dengan lukisan itu ia mempertalikan dirinya ke masa lalu, ke masa ketika hari-harinya begitu hidup. Dan ketika lelaki itu, yang membuat semangatnya membuncah, harus pergi, ia ‘mematikan’ dirinya. Hidup tak lagi punya makna. Kenangan akan kekasihnya di masa lampau yang jauh masih menyisakan nyala di hatinya sekaligus membikin perasaannya compang-camping.

Kiranya, situasi Nona Saeki tak jauh berbeda dengan kita. Ada masa ketika mencium aroma minyak wangi tertentu mengingatkan kita tentang seseorang yang istimewa. Ada waktu ketika berada di kamar mendiang kakek/nenek yang sengaja dipelihara isinya membuat kita menitikkan air mata. Kita kadang lebih mencintai hidup dengan menjaga ingatan pada sesuatu yang pernah membuat hari-hari kita begitu bermakna. Adakalanya, kita tak memiliki kesanggupan untuk memilih. Ketika sedang tak awas, kadang ingatan buruk, yang tak kita inginkan untuk menyembul, menyelinap ke luar dengan diam-diam dan merusak suasana hati. Pada titik itu, mau tak mau ingatan itu, seperti kata Nona Saeki, “mencerai-beraikan”.

Tetap saja, baik atau buruk, menjaga ingatan jauh lebih baik dari keadaan tanpa ingatan. Sebab, ingatan membentuk seseorang juga kelompok. Sebuah keluarga besar menjaga ingatan dengan meneruskan keberlangsungan sejarahnya melalui silsilah keluarga. Sebuah bangsa yang besar menghargai asal-usulnya dengan tidak melupakan sejarah. Dunia masih punya harapan jika ia tak kehabisan orang-orang dengan ingatan tajam.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengenang, untuk memungkinkan napak tilas. Tradisi merayakan hari-hari tertentu, contohnya. Sebut aja apa pun: perayaan Hari Kemerdekaan, Hari Sumpah Pemuda, Hari Raya Kurban, Paskah, Hari Ulang Tahun, dan sebagainya. Ingata n kolektif semacam itu digaungkan demi tetap membumikan kebersamaan. Dan kita tahu, ingatan kolektif itu merupakan salah satu cara mendefinisikan lagi kedirian dan keberadaan suatu individu di tengah kelompok, atau bahkan cita-cita bersama.

Masih mungkinkah hal demikian?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s