Perjalanan

18 November 2011

Bayangkanlah Anda tengah berlama-lama mematut diri di muka kaca namun tidak untuk mengagumi sepasang mata yang cerlang, atau bahkan hidung yang bangir sempurna itu.

Bayangkanlah Anda memandangi bayangan itu pada cermin namun tidak untuk mengeluhkan gigi yang rumpang, atau rambut yang tak kunjung bisa diatur.

Bayangkanlah Anda sedang menekuri kaca untuk sekadar mengamati dengan khusyuk garis-garis tipis yang nyaris tak tampak yang seakan-akan hadir begitu saja di kening dan membatin, “kulihat pada garis-garis itu diriku pada masa laluku, suatu titik tempat aku berangkat. Kurasakan, kini, pada garis-garis itu, aku giat meniti mimpi-mimpi tergilaku.”

Pada proses yang mungkin sepele itu, Anda sedang menjadi seorang peziarah: seseorang yang tak mengenal kata berhenti untuk mengenali dirinya, atau bahkan menyusun gambar bagi tujuan-tujuan hidupnya. Seorang peziarah percaya bahwa cara terbaik mendekati masa depannya yang tak pernah teramalkan adalah menjalani kekinian dan menghormati kelampauan dengan penuh seluruh. Seorang peziarah percaya bahwa satu-satunya gerbang menuju masa depan adalah kesanggupan memelihara ingatan. Ia menolak lupa. Sebab sebuah perjalanan yang didasarkan pada buruknya ingatan sungguh bisa menyesatkan. Baca entri selengkapnya »