Bayangkanlah Anda tengah berlama-lama mematut diri di muka kaca namun tidak untuk mengagumi sepasang mata yang cerlang, atau bahkan hidung yang bangir sempurna itu.
Bayangkanlah Anda memandangi bayangan itu pada cermin namun tidak untuk mengeluhkan gigi yang rumpang, atau rambut yang tak kunjung bisa diatur.
Bayangkanlah Anda sedang menekuri kaca untuk sekadar mengamati dengan khusyuk garis-garis tipis yang nyaris tak tampak yang seakan-akan hadir begitu saja di kening dan membatin, “kulihat pada garis-garis itu diriku pada masa laluku, suatu titik tempat aku berangkat. Kurasakan, kini, pada garis-garis itu, aku giat meniti mimpi-mimpi tergilaku.”
Pada proses yang mungkin sepele itu, Anda sedang menjadi seorang peziarah: seseorang yang tak mengenal kata berhenti untuk mengenali dirinya, atau bahkan menyusun gambar bagi tujuan-tujuan hidupnya. Seorang peziarah percaya bahwa cara terbaik mendekati masa depannya yang tak pernah teramalkan adalah menjalani kekinian dan menghormati kelampauan dengan penuh seluruh. Seorang peziarah percaya bahwa satu-satunya gerbang menuju masa depan adalah kesanggupan memelihara ingatan. Ia menolak lupa. Sebab sebuah perjalanan yang didasarkan pada buruknya ingatan sungguh bisa menyesatkan.
Di sini saya teringat Abdurrachman Wahid. Kiai cendekia dengan panggilan karib Gus Dur itu menunjukkan betapa ingatan, atau dalam hal ini sejarah, penting dalam perjalanan, terutama yang mesti dilakoni oleh sebuah bangsa. Kita masih dengan jernih mengenang betapa pada awal milenium ini, semasa ia menjabat sebagai presiden, sebuah keputusan ia tetapkan dengan bulat: kaum Tionghoa berhak mendapatkan kebebasannya kembali dalam mengekspresikan dirinya melalui kesenian mereka, produk kebudayaan mereka.
Banyak yang bersyukur atas itu. Namun tidak sedikit pula yang mengutuk kebijakan sang kiai. Bagi yang sekata dengan Gus Dur, instruksi presiden (inpres) tahun 2000 itu dianggap mengembalikan lagi posisi kaum Tionghoa yang melekat dengan sejarah kebangsaan negeri ini. Bagi mereka yang tak sepakat – yang mungkin menolak sebuah nasion yang berpondasikan kemajemukan dan melegalkan diskriminasi – Gus Dur dikomentari dengan miring.
Ia mampu, meminjam pernyataan Goenawan Mohamad, melintasi batas-batas. Dan dalam sebuah perjalanan – journey – seseorang yang melintasi batas takkan dianggap pendosa.
Ketika seseorang sepenuhnya bersandar pada batas-batas, ia akan menihilkan keadaan di sekelilingnya. Spontanitas jadi haram baginya. Ada pelbagai kemungkinan di luar sana yang niscaya akan disia-siakan. Baginya, dunia adalah kepastian.
Sementara itu, sang pelintas batas melihat dunia sebagai keserbamungkinan. Dalam dirinya, mengalir darah seorang penari dan petualang. Pada si penari, ia senantiasa bisa bergerak leluasa. Pada sang petualang, ia ingin menjelajahi seluruh lekuk dunia. Kehendaknya adalah menjadi manusia bebas.
Karena itu, si pelintas batas tak selamanya berfokus pada tujuan. Demikian kita mafhum bahwa begitu banyak orang, bahkan kita sekalipun, terlalu asyik melepas pandang ke sebuah tujuan dan melupakan perjalanan itu sendiri. Padahal, selalu ada hal-hal tak terduga yang bisa terjadi di tengah perjalanan. Dan, seringkali, insiden sekecil apa pun bisa membelokkan arah.
Jika sebuah perjalanan yang nyata-nyata menentukan arah hidup sudah tak bisa lagi dinikmati, lantas apa yang bisa disisakan darinya kecuali menyesalkan tujuan-tujuan yang akhirnya tak mampu digapai?
Seorang pengarang Amerika Serikat, John Steinbeck. Peraih Nobel di bidang sastra itu, yang bisa begitu piawai menggambarkan watak orang California, yang kerap menjadi model tokoh-tokoh dalam novelnya, berujar, “suatu perjalanan itu seperti perkawinan. Hal yang bisa bikin kacau adalah ketika kita merasa bisa mengendalikannya.”
Pernyataan Steinbeck itu mengangankan bahwa perjalanan, seperti halnya perkawinan, selalu bisa memiliki kendali atas dirinya sendiri. Jika kita ingin masuk ke dalamnya, menjadi bagian darinya, kita mesti siap dengan proses negosiasi. Dalam proses tawar-menawar itu, ‘si aku’ menangguhkan kepemilikan atas apa yang seharusnya menjadi hakku demi memberi jalan bagimu, dan seterusnya.
Mereka yang tak membiarkan proses negosiasi itu terjadi akan cepat merasa frustasi pada dirinya. Maka yang terjadi adalah narsisisme akut: semua adalah mengenai aku, oleh aku, dan untuk aku. Ia tak mengakui ada masa ketika yang mengagumkan dari diri seseorang akan terenggut dan tak kembali. Ia sepenuhnya tak menyadari kehadiran ‘sang lain’ – the other. Baginya, selama ia bisa merengkuh keuntungan sebanyak-banyaknya dari laku itu, ia takkan mau lagi mengindahkan sesama.
Izinkanlah saya kembali lagi ke bagian awal, fase becermin itu.
Sebuah perjalanan yang tak memberi ruang bagi ‘sang lain’ bukankah seperti tindakan becermin itu, yang hanya hirau belaka pada keindahan tubuh sendiri? Kian lama tubuh itu diamati, kian tak terlihat cacat yang sebenarnya: lengan yang bisa kapan saja terkilir, mata yang merabun, kulit yang pasti kisut. Keberadaan tubuhnya hanya mungkin ketika ada cermin yang diletakkan di hadapannya. Jika cermin itu retak, atau bahkan pecah, maka tubuh itu sekonyong-konyong ikut raib.
Lantas, di mana letak kesempurnaan perjalanan, jika memang ada? Hanya mereka yang pernah sampai hingga ujung jalan itu yang tahu. Dan kiranya, ia adalah yang berani melintas batas.