Hari ini, berita itu sampai kepada saya. Rajo mati. Tubuhnya penuh luka, dari tombak dan mimis. Di pergelangan kakinya, bau logam dari jerat yang mencerabutnya dari keluasan dunia begitu menyengat.
Saya membayangkan ia menahankan kesakitan yang tak tepermanai itu dengan keteguhan yang tak terdefinisikan. Di sana, di sebuah ruang perawatan sebuah pusat konservasi hewan di Cisarua, saya membayangkan lenguhannya yang nyaris habis meledakkan hati para juru rawat. Saya membayangkan, ia menegaskan kediriannya pada hidup yang cuma sebentar: “Aku di ambang ajalku. Tapi jangan suntikkan morfin itu, sebab perih yang membungkus tubuhku ini menandakan bahwa aku masih hidup.”
Ini kali kesekian saya merasa ngungun atas matinya hewan, selain sebelumnya terasa ketika cemong, seekor kucing, atau badut, kutilang yang pernah meramaikan rumah masa kanak, mangkat. Saya merasa Rajo tak pantas menerima siksaan itu: dianiaya dalam keadaan tak mampu melawan. Saya membayangkan mereka yang berusaha membunuhnya adalah segerombolan gergasi dengan mata yang nyaris buta. Bagi mereka, Liyan adalah sebuah kemustahilan.
Rajo bukan satu-satunya Harimau Sumatera yang harus menyerahkan kedaulatan diri dan wilayahnya kepada ketamakan yang diuar-uarkan bangsa manusia. Ia menjelma monumen tak kasat mata bagi kekejian yang diarahkan pada dirinya, kaum harimau sebelumnya, dan bahkan sekelompok lain di masa mendatang yang menunggu kematian.
Di hutan tempat mereka menyembunyikan kotorannya sendiri, pati dalam kesakitan adalah keniscayaan.
Pagi ini saya berkabung atas kematiannya, pun kematian nurani para pembunuhnya. Pagi ini, saya melihat langit yang menyisakan biru dengan rasa getir.