derek

16 Maret 2012

namanya derek redmond. ia seorang pelari jarak pendek. pada olimpiade barcelona 1992, dalam nomor sprint 400 meter, ia diunggulkan meraih medali emas. wajar saja. sepanjang kariernya, yang ditumbuhi cedera, atlet inggris itu telah begitu banyak mencetak prestasi.

hari semi final itu begitu hangat. 65 ribu penonton satu per satu berkeringat. di lintasan, para pelari bersiap mengadu tekad, memendekkan jarak. lapangan dipenuhi debar.

ketika pistol ditembakkan ke udara, tapak-tapak kaki para pelari berebut derap. satu-dua-satu-dua. kian lama, hitungan langkah menjadi kian kerap. derek, berada pada urutan ketujuh pada posisi mula, kini mendesak ke muka. ia seperti kerikil yang dilepaskan dari ketapel. Baca entri selengkapnya »

Iktikad

4 Februari 2012

Jika dunia hanya berpihak pada mereka yang punya ingatan tajam, lalu di mana mereka yang hanya punya lupa diletakkan?

Ini kisah yang dituturkan seorang teman, tentang persahabatan, tentang kebulatan hati. Tentang perjuangan mendapatkan kembali hidup yang nyaris direnggut sepenuhnya.

Pada mulanya adalah sebuah kecelakaan. Dan nama dalam daftar kontak telepon yang letaknya paling atas.

Si celaka kehilangan seluruh keluarganya, dalam kecelakaan mobil itu. Lantas sebuah nama di dalam telepon seluler miliknya dihubungi oleh polisi yang tiba di lokasi musibah.

“Entah apa yang akan terjadi kemudian jika polisi tak menghubungi abang saya,” kata kawan saya itu.

Di rumah sakit, si celaka semata dianggap ayam di tempat pejagalan yang menunggu ajal. Tak ada yang mau mengurusnya.
Sebab, ia tak punya penjamin. Baca entri selengkapnya »

Rajo

18 Januari 2012

Hari ini, berita itu sampai kepada saya. Rajo mati. Tubuhnya penuh luka, dari tombak dan mimis. Di pergelangan kakinya, bau logam dari jerat yang mencerabutnya dari keluasan dunia begitu menyengat.

Saya membayangkan ia menahankan kesakitan yang tak tepermanai itu dengan keteguhan yang tak terdefinisikan. Di sana, di sebuah ruang perawatan sebuah pusat konservasi hewan di Cisarua, saya membayangkan lenguhannya yang nyaris habis meledakkan hati para juru rawat. Saya membayangkan, ia menegaskan kediriannya pada hidup yang cuma sebentar: “Aku di ambang ajalku. Tapi jangan suntikkan morfin itu, sebab perih yang membungkus tubuhku ini menandakan bahwa aku masih hidup.” Baca entri selengkapnya »

Perjalanan

18 November 2011

Bayangkanlah Anda tengah berlama-lama mematut diri di muka kaca namun tidak untuk mengagumi sepasang mata yang cerlang, atau bahkan hidung yang bangir sempurna itu.

Bayangkanlah Anda memandangi bayangan itu pada cermin namun tidak untuk mengeluhkan gigi yang rumpang, atau rambut yang tak kunjung bisa diatur.

Bayangkanlah Anda sedang menekuri kaca untuk sekadar mengamati dengan khusyuk garis-garis tipis yang nyaris tak tampak yang seakan-akan hadir begitu saja di kening dan membatin, “kulihat pada garis-garis itu diriku pada masa laluku, suatu titik tempat aku berangkat. Kurasakan, kini, pada garis-garis itu, aku giat meniti mimpi-mimpi tergilaku.”

Pada proses yang mungkin sepele itu, Anda sedang menjadi seorang peziarah: seseorang yang tak mengenal kata berhenti untuk mengenali dirinya, atau bahkan menyusun gambar bagi tujuan-tujuan hidupnya. Seorang peziarah percaya bahwa cara terbaik mendekati masa depannya yang tak pernah teramalkan adalah menjalani kekinian dan menghormati kelampauan dengan penuh seluruh. Seorang peziarah percaya bahwa satu-satunya gerbang menuju masa depan adalah kesanggupan memelihara ingatan. Ia menolak lupa. Sebab sebuah perjalanan yang didasarkan pada buruknya ingatan sungguh bisa menyesatkan. Baca entri selengkapnya »

Ingatan

24 Oktober 2011

Tak ada orang yang tak gentar dengan menjadi tua. Bayangan itu begitu jelas dalam kepala: mata yang tak lagi awas, kulit yang kehilangan sifat plastis, hidup sendirian, atau bahkan kehilangan ingatan. Yang terakhir itu begitu bikin ngeri. Sebab, ketika ingatan raib dari diri kita, kita sebenarnya tak lagi ada.

Saya teringat sebuah kisah dari karya seorang penulis Jepang, Haruki Murakami, yang bercerita tentang hubungan seorang anak muda gelisah yang kabur dari rumah, dan perempuan di pertengahan usia 40 yang mengelola sebuah perpustakaan pribadi. Dalam novel berjudul “Kafka on the Shore” itu, kedua karakter digambarkan menyimpan riwayatnya masing-masing sebelum akhirnya muncul momen yang mempertemukan keberbedaan itu.

Kafka Tamura, sang pemuda berumur 15 tahun, mencari cinta oedipal. Dilandasi hubungan kompleks, ia teramat yakin bahwa Nona Saeki, sang perempuan, adalah ibunya. Kafka jatuh cinta kepada perempuan itu, yang secara ganjil selalu ia rasakan memasuki kamarnya untuk memandangi sebuah lukisan yang tergantung di dekat meja belajar. Namun, anehnya, wujud Nona Saeki adalah gadis yang sebaya dengannya. Baca entri selengkapnya »

Pangeran William dan Kate Middleton (zimbio.com)

Tengoklah linimasa Twitter hari ini. Ia melulu didominasi oleh informasi mengenai hal-ihwal perkawinan anggota keluarga Kerajaan Inggris. Simaklah “Trendings” sambil termangu: #royalwedding; William & Kate; Westminster Abbey; Buckingham Palace. Untuk sementara, para remaja Indonesia, yang dikenal dengan sebutan ‘abege’, boleh lenyap sebentar dari daftar ‘topik panas’, yang kerap direbut-curi pada waktu-waktu tak terduga.

Agaknya, pengaruh pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton dalam ranah media sosial seperti Twitter serupa dengan daya gedor Barack Obama di jejaring sosial digital semasa masa kampanye kepresidenan di Amerika Serikat pada tahun 2008. Obama, yang pernah mengeluh karena perangkat BlackBerry miliknya dalam pengawasan negara, berhasil menyiasati teknologi Web 2.0, yang kini mendasari media sosial, demi merengkuh massa pada akar rumput.

Leslie Walker di About.com menulis bahwa sehari sebelum acara perkawinan berlangsung, halaman Facebook ‘British Monarchy’ mendapatkan ‘jempol’ 379.478 kali, yang memang masih jauh dari pendapatan Obama, yang mencatat ‘penggemar’ sebanyak 19,6 juta. Di Twitter sendiri, kicauan tentang persiapan pernikahan disampaikan langsung oleh akun resmi kediaman Pangeran William @ClarenceHouse. Akun ini memiliki pengikut sebanyak 50.042 sementara Obama dikuntit 7,5 juta pengguna. Baca entri selengkapnya »

Rakus

18 April 2011

Ilustrasi Arjuna dan Sri Kresna dalam Bharata Yudha (wayang.wordpress.com)

Syahdan, di padang Kurusetra, pangeran karismatik Pandawa, Arjuna, terperosok dalam keraguan dan dilema moral menjelang perang besar melawan sepupu-sepupunya dari pihak Kurawa. Sri Kresna yang pengasih dan pandai menyusun kata tak tinggal diam. Ia berbicara kepada Arjuna, dengan nada santun namun penuh penekanan, tentang kewajiban yang mesti dijalani Arjuna sebagai seorang ksatria. Pada salah satu baris, Kresna menegaskan, “Ada tiga gerbang menuju neraka, yakni nafsu, amarah, dan keserakahan. Ketiganya penuh daya hancur dan harus dihindari.”

Arjuna mengangguk seraya tetap memandangi tanah yang akan basah oleh darah itu. Pikirannya berkelana ke masa-masa ketika Pandawa dan Kurawa masih dalam keriangan kanak. Setiap hari adalah permainan. Dan seperti lazimnya permainan, kegembiraan ‘melakukan’ bisa melampaui prinsip menang-kalah.

Pengalaman masa lalu mungkin membuat Arjuna tak mengerti kenapa Kresna seakan-akan hanya mengarahkan filosofi itu ke Kurawa. Benar bahwa Pandawa, termasuk Arjuna, mengalami pembuangan selama 13 tahun akibat perjudian. Namun, itu tak lepas dari ‘keteguhan’ Yudhistira mengikuti alur yang telah dirangkai oleh Sengkuni. Jadi, sesungguhnya, perang saudara itu sendiri sesungguhnya akibat ketidakmampuan Yudhistira menahan nafsu berjudi. Baca entri selengkapnya »

Abai

16 Maret 2011

(photo.net) - diambil tanpa izin

Sejarah penuh dengan pengabaian. Di dekat kita di Jakarta, pada suatu masa, seseorang yang pernah menjabat sebagai seorang presiden dirumahkan sendirian. Ia, yang pada zamannya menjadi kebanggaan khalayak karena karisma dan kecerdasannya, harus melalui akhir kehidupannya jauh dari kehangatan keluarga. Dan pada akhirnya, proklamator itu, yang sebagian waktunya habis dalam penjara dan pembuangan Belanda, meninggal di pengasingan didampingi kedua karibnya, Hatta dan Ali Sadikin.

Pun kita bisa menengok wilayah dalam-tembok Batavia, yang kini dikenal dengan Kota Tua. Pada Abad 17, ketika Jayakarta baru saja ditaklukkan oleh Jan Pieterszoon Coen dan diubah namanya menjadi Batavia, VOC mengendalikan perdagangan dan membangun daerah itu. Dermaga besar diwujudkan. Pusat pemerintahan dibakukan. Nama kota ini berjaya hingga ke benua.  Baca entri selengkapnya »

Sempurna

16 Desember 2010

(Freefoto.com)

Tuhan agaknya menyukai segala yang cacat, pada diri manusia. Sejak pertama kali kisah tentang penciptaan muncul, manusia tak pernah lepas dari keserbakurangan: Adam yang sulit menghela nafsu; Kabil yang jadi pembunuh. Sejarah tentang manusia adalah serangkaian catatan yang penuh ketidaksempurnaan. Baca entri selengkapnya »