Mencari Majapahit ke Timur Jawa
3 Desember 2010
Matahari sedang tinggi. Kulit saya menakar suhu saat itu ada di sekitar 35-37º C. Tapi orang masih asyik lalu-lalang menumpang motor atau berjalan kaki. Di tengah udara lembab, saya dan seorang kawan seperjalanan tengah menekuri sebuah kolam berair tenang. Airnya tak bisa dibilang jernih. Ada yang tetap tekun memandangi permukaannya: Seorang lelaki, dan perempuan di tengah umur empat puluhan. Sang lelaki memegang pancing, sementara si perempuan gesit melempar jala.
“Cari ikan apa, Bu?” tanya kawan saya. Yang ditanya hanya tersenyum dan membersihkan jalanya dari kotoran. Ada seekor-dua ikan berusaha berkelit dari keruwetan anyaman tali. Tiga orang bocah berusia sekitar 6-10 tahun mengelilingi perempuan itu, mengamati tangan ibu mereka yang gesit memilah ikan dari lumpur. Sesekali, wajah-wajah gosong bocah-bocah itu menantang lensa kamera saya seakan-akan menunjukkan kegairahan mereka akan cahaya matahari. Sementara di seberang mereka, si lelaki belum lagi beranjak dari posisinya semula. Saya tidak tahu apakah ia masih terjaga, atau menerbangkan imajinasinya ke ruang lain.
Tak ada yang istimewa dengan aktivitas mereka. Berburu ikan di kolam mana pun sudah sewajar menanam pohon buah-buahan di lahan apa saja. Satu-satunya hal yang mungkin jadi perhatian adalah sejarah kolam itu. Jika kita maklum akan latar belakang kolam itu, pasti kita akan meruapkan sedikit kekecewaan. Sebabnya, ia adalah bagian dari kisah kerajaan besar yang pernah ada di nusantara.
Di Sana, di Kaki Himalaya (Ladakh)
25 November 2010
Di pucuk bukit penuh batu berserakan itu, sehimpunan bangunan bercat kapur seolah muncul sekonyong-konyong. Pada latar belakang, langit disesaki warna biru. Pada latar depan, sejenis pepohonan poplar seakan-akan menusuk-nusuk pondasi bangunan. “Keren,” seseorang berkomentar, “lokasinya di mana?” Yang ditanya, sambil mengetikkan sesuatu di laptopnya, menjawab, “Ladakh.”
Foto yang mereka bicarakan itu menggambarkan Biara Thikse, yang letaknya sekitar 19 km sebelah selatan Leh, ibukota Ladakh. Keindahan bangunan itu kerap diabadikan melebihi bangunan apa pun di kota Leh. Karenanya, Biara Thikse cepat mendunia. Hanya saja, sebagaimana sifat rekaman visual atau tulisan, keanggunannya tak mungkin terpaparkan sepenuhnya, seperti yang pernah dituliskan oleh seorang penyair India, Rabindranath Tagore: Sebuah bunga takkan terlihat kecantikannya dengan hanya merenggutkan kelopaknya belaka.

