“Jabang Tetuko”: Ringkas Durasi, Pangkas Detail
28 Mei 2011
Tak ada yang pernah mudah dalam seni pertunjukan di Indonesia. Padahal, di satu sisi, negeri ini adalah sebuah lokus yang kiranya tak pernah benar-benar kekeringan ‘bahan mentah’ – hasil dari peleburan tiada henti tradisi-tradisi kebudayaan dunia.
Namun, dari kesulitan mengembangkan bidang itu, karya-karya terpuji pernah muncul: “Dongeng dari Dirah” (Sardono W. Kusumo), “The Iron Bed” (Garin Nugroho), dan, termutakhir, “Matah Ati” (Atilah Soeryadjaya), untuk menyebut beberapa.
Ketiga karya itu berlandaskan kisah-kisah yang sudah lama beredar. Sardono mencomot legenda janda dari Desa Dirah sebagai model; Garin, menoleh pada epos Ramayana; sedangkan Atilah meminjam biografi Raden Mas Said serta kekasihnya, Rubaiyah. Maka, setelah ketiga pendahulu itu, kemunculan sineas Mirwan Suwarso dengan “Jabang Tetuko,” layak ditunggu dengan penuh debar. Baca entri selengkapnya »
Cinta di Panggung Miring
13 Mei 2011
Jay Subiyakto tahu cara mengemas pementasan menjadi suatu peristiwa. Dengan kecakapan menerjemahkan gagasan sekaligus visi tajam, ia tak ragu mengubah panggung ‘tradisional’ menjadi lebih kompleks dan berdimensi majemuk. “Usaha keras perlu bagi pentas yang bagus,” tukasnya.
Kejeliannya menyiasati ruang dapat Anda nilai pada pertunjukan tari “Matah Ati” yang akan berlangsung pada 13-16 Mei, 2011, pukul 20.00 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Bermakna secara harfiah “melayani hati sang pangeran,” naskah “Matah Ati” serta koreografi tari dikerjakan oleh Atilah Soeryadjaya, cicit Sultan Mangkunegara VII.
Jika maestro penataan artistik pentas Indonesia, Rudjito, menganggap bahwa sederhana itu indah, Jay agaknya memilih menjauh dari pandangan itu. Kompleksnya tata panggung garapannya mensyaratkan presisi tinggi seorang tukang dan perhitungan matang seorang dokter. Dan demi memberikan penekanan kuat pada sisi artistik, ia menyiapkan instalasi tak kalah memikat demi mengisi panggung. Kematangan rancangan lantas menghasilkan sebuah panggung yang teramat berwarna, seperti karnaval. Baca entri selengkapnya »
Mencari Kali di Diri
16 Mei 2010
“Anda punya kali?” tanya perempuan itu dalam keraguan dan ketakutan. ”Kali-kali menciut,” rutuknya, ”Kali-kali raib.”
Dalam intonasi timpang, Mona Sylviana mengisi suara perempuan itu dengan keperihan yang nyaris mewakili kekelaman pada ”Hujan Mencari Kali”, sebuah repertoar produksi Studio Hanafi dan Institut Nalar Jatinangor yang terpaksa dihadirkan dua kali pada Selasa (11/5) karena ruang tak sanggup menampung beludak penonton. Sepanjang pertunjukan, narasi yang ditembakkan ke panggung oleh Mona mengatur ritme dan nyawa pementasan.
Tidak hanya menempelkan keaktoran Mona, ”Hujan Mencari Kali” menjadi galeri instan karya instalasi pelukis/perupa Hanafi. Aula Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ), Universitas Padjadjaran, Jatinangor, yang menyemburkan kekakubekuan ruang ala teknokrasi diolah dengan terampil dan kreatif oleh Hanafi sehingga menciptakan sebuah ruang baru. Maka perhatikanlah ini: kerangka wajan berbahan logam berdiameter sekitar 2,5 meter mengambang di tengah aula, seakan-akan menjadi wajah dalam tengadah-sembah. Di bibir panggung, gergaji raksasa ditelentangkan sebagai medium bagi seorang aktris (Astrid) yang memerankan gergasi dalam kostum berwarna, meminjam larik sajak Nirwan Dewanto, ”merah Mao”, untuk mengolah gerak tubuhnya.
”Hujan Mencari Kali”, repertoar arahan Hanafi, Hikmat Gumelar, dan Adinda Luthvianti ini, dibagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama meminjam ruang tepat di bawah kerangka wajan mengambang. Dan bagian terakhir bertempat di sisi yang berseberangan dari naungan wajan, dengan setting panggung yang menyarankan sebuah bangsal rumah sakit. Baca entri selengkapnya »
Ketika Gerak Melampaui Kata-kata
14 April 2010
Kata-kata adalah senjata, tegas si pemberontak Subcomandante Marcos. Dan dunia memang kerap takluk ditikam kata. Namun, adakalanya kata-kata begitu mengasingkan, tak membebaskan, dibebat keculasan. Itu karena “manusia lupa bahwa dirinya adalah pantomim.”
Milan Sladek, sang pemuka pantomim itu, merangkai kalimat pendek tersebut di atas panggung nir-properti pada pertunjukan tunggal berjudul “Hidup Untuk Pantomim” di Goethe Institut, Jakarta, Kamis 4 Desember 2008 malam. Dua malam sebelumnya Ia mementaskan pertunjukan “Komedi Manusia” di Teater Salihara. Namun, kalimatnya tak berhenti di situ. Ia juga berujar: manusia dengan kata-kata adalah manusia yang ganjil, karena bahasa tubuh jauh lebih purba.
“Bunga Matahari,” pembuka pertunjukan malam itu, menjadi awal bagi penonton untuk memahami ucapan Sladek. Ia di situ berperan sebagai seseorang yang memelihara bunga matahari, sejak dari biji hingga besar dan mati. Kadang, ia berganti peran sebagai si bunga matahari itu sendiri. Si penanam begitu riang ketika tahu bunganya tumbuh sempurna. Si bunga begitu penuh syukur bahwa ia dipelihara dengan kesungguhan. Hingga tiba satu saat ketika ada pesawat melintas dan, agaknya, menjatuhkan bom. Sebuah hubungan pun lantas koyak: suatu hubungan personal yang dibangun dengan keras runtuh begitu rupa sebentar saja. Baca entri selengkapnya »
Discus, Si Langka Digdaya
14 April 2010
Musik yang bagus senantiasa berupaya melampaui batas-batas. Ia mengandaikan terbangunnya hubungan yang intens antara pemusik, instrumen yang dimainkan, lagu, dan pendengar, tanpa mengenal kelas yang mengkotak-kotakkan suatu kaum. Ia bisa selalu menggetarkan sekaligus menggentarkan pendengarnya tanpa ancang-ancang.
Dan Discus menawarkan itu kepada para pendengarnya itu di teater Black Box Salihara, pada 5 November 2008, dalam rangkaian acara Festival Salihara yang berlangsung pada 17 Oktober – 6 Desember 2008 di Jalan Salihara 16 Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kelompok yang didirikan Iwan Hasan dan Anto Praboe pada tahun 1995 itu seakan menjepit telinga penonton dengan progresi kord yang rumit dan aransemen luar biasa kaya. Baca entri selengkapnya »
Ranjang Besi
14 April 2010
Garin Nugroho tak hanya piawai menggarap film. Komposisi tarinya mampu pula menciptakan ekstase visual. Setidaknya, mereka yang menonton pertunjukan tari “The Iron Bed” pada malam pembukaan The 9th Indonesian Dance Festival (27-31 Oktober 2008) di Graha Bhakti Budaya (GBB) TIM, Selasa 28 Oktober 2008 malam, sudi menjadi saksi.
“The Iron Bed” berpusat pada kisah tentang Siti, gadis ayu yang menikah dengan Setio, pengkutbah pengelana yang dimainkan secara elegan oleh Martinus Miroto. Pernikahan mereka senantiasa dianiaya oleh kehadiran seorang preman bernama Ludiro (Eko Supriyanto).
Hanya berdiam diri di rumah, Siti nan anggun itu cuma bisa leyeh-leyeh di kamar, atau melakukan pekerjaan rumah harian lainnya. Situasi ini menyediakan celah bagi Ludiro, yang kerap mampir menyamar sebagai satria digdaya yang terhormat, untuk merayunya. Tak butuh waktu lama, Siti terpikat bujukan sang pendekar gadungan.
Konflik menjadi semakin tajam ketika seekor monyet, yang selalu menemani Setio, jatuh hati pada adik perempuan Ludiro. Sang monyet, yang telah mencium aroma perselingkuhan Ludiro dan Siti, terjebak dalam obsesi: tetap loyal pada juragannya, dan birahi pada adik perempuan Ludiro. Baca entri selengkapnya »
Tarian Cinta Hartati
14 April 2010
Hubungan termudah bagiku adalah dengan sepuluh ribu orang, ungkap Joan Baez, sang penyanyi perempuan legendaris itu, namun yang paling sulit adalah hubungan dengan satu orang.
Itu mungkin isu serupa yang ingin diungkapkan oleh Hartati, Koreografer asal Solok, Sumatera Barat, dalam karya tari ‘Cinta Kita’ sebagai bagian dari program Empowering Women Artist yang didanai oleh Yayasan Kelola dan Hivos. Pertunjukan tari tersebut dipentaskan di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta pada Jumat (24/10) dan Sabtu (25/10).
Pada karyanya kali ini, Hartati membagi pertunjukan dalam tiga bagian, yang secara penuh berjalan kurang dari satu jam. Bagian pertama menampilkan duet penari pria (Theodorus Christanto) dan perempuan (Ratna Ully). Pada bagian ini, Hartati mengeksplorasi masalah yang sebenarnya sudah cukup klise: kekalutan sekaligus kegairahan yang timbul dalam merajut sebuah hubungan, terutama antara lelaki dan perempuan. Baca entri selengkapnya »
Teumeumeung di Salihara
14 April 2010
Nasidroe aneuk di moe si at at
Lam jeut jeut saat… saat dua ngeon poma
Di tanyeong bak ma….. bak ma…, Ayah jinoe pat hai jinoe pat
Ulon rindu that rindu that keuneuk eu rupa…
Nyoe mantoeng hudep meupat alamat
Uloen jak seutoet… jak seutoet ‘oeh watee raya
Nyoe ka meuninggai……. meuninggai, Meupat keuh jeurat ee jeurat
Uloen jak siat… jak siat loen baca doa
(Aneuk Yatim – Rafly)
Ketika memasuki ruang remang itu, tak ada ruap aroma kopi Aceh atau kari kambing yang menantang selera. Menapaki jalan menuju ruang remang itu, tak ada penyambut tamu yang menawarkan timphan asoe kaya atau roti jala khas provinsi di ujung barat Indonesia. Walau demikian,para tetamu mengerti bahwa mereka sedang memasuki ‘Aceh’, memasuki ‘deritanya yang nyaris tak menemukan jeda.’
Ruang remang itu tak lain aula Teater Salihara, Jalan Salihara 16, Pejaten Barat, Jakarta Selatan. Dan ‘ke-Aceh-an’ yang terlalu kental di ruangan itu tercipta oleh vokal Rafly KANDE nan khas, yang berkolaborasi dengan Dwiki Dharmawan, dalam sebuah pertunjukan kontemplatif berjudul “Teumeumeung” di gedung pertunjukan anyar tersebut, Sabtu, 20 September 2008. Baca entri selengkapnya »