Tidak ada yang baru di bawah matahari. Pun, tak ada yang sama sekali abadi di kolong langit. Keabadian milik tuhan belaka, kata orang alim, bukan makhluk berdarah dan berdaging seperti manusia. Maka hal biasa jika seorang bintang film, baik top maupun kapiran, memutuskan mengubah jalan karir.

Sang bintang itu bernama Sasha Grey.

Terlahir sebagai Marina Ann Hantzis pada 14 Maret 1988, Grey punya nama besar di industri film porno Amerika Serikat. Terjun ke jagat film ‘panas’ sejak usia 18 tahun, ia telah membintangi lebih dari 150 film, membawa beberapa judul seperti “Sasha Grey’s Anatomy,” “House of Sex and Domination,” dan “Teenage Whores,” ke dalam daftar film unggulan pada genre porno, dan ditahbiskan sebagai aktris terbaik pada ajang Adult Video News Awards tahun 2008, termuda dalam sejarah anugerah itu.

Ia menyebut dirinya ‘aktris pertunjukan,’ seperti dirilis Los Angeles Times pada tahun 2009. Selain itu, ia tak ragu menyiapkan film dokumenter, menggarap novel grafis, serta menulis sebuah buku tentang ‘filosofi seks’. Pada tahun 2009 pula Grey mendirikan rumah produksi yang bertujuan ganda: mengubah wajah pornografi sekaligus memberdayakan perempuan. Baca entri selengkapnya »

Film Indonesia kiwari kian kehilangan kepercayaan diri. Seakan menihilkan keberhasilan “Laskar Pelangi”, “Pintu Terlarang”, atau “Ada Apa dengan Cinta”, untuk menyebut beberapa karya, publik pencinta gambar hidup di tanah air secara bertubi-tubi dijejalkan puluhan film yang mengeksploitasi tubuh dan sensualitas.

Mari simak deretan judul berikut: “Hantu Puncak Datang Bulan”, “Pelukan Janda Hantu Gerondong”, “Suster Keramas 2″, “Pocong Mandi Goyang Pinggul.” Mengeja kata-kata itu, bukan salah Anda jika terkenang dekade 1990an, wahai penonton budiman: sebuah masa yang ramai oleh film-film semi-porno.
Siapa pernah lupa Taffana Dewi dalam “Gairah Malam”, atau Sally Marcellina di “Misteri Janda Kembang”? Nama mereka, bersama judul-judul film lain yang bikin cemas seperti “Akibat Hamil Muda” atau “Pergaulan Ranjang Memikat”, nyaris selalu muncul pada iklan bioskop di surat kabar.

Reaksi masyarakat terhadap film-film semacam itu memang tidak selalu tunggal seperti layaknya tabiat film itu sendiri, yang menghendaki munculnya multitafsir. Sebagian orang masih menikmati sebagai tontonan, yakni hiburan di kala senggang demi melenyapkan kejenuhan. Banyak pula yang melontarkan caci-maki sonder bangunan argumen yang masuk akal. Bahkan, mungkin, ada juga kaum yang sudah kadung antipati tanpa pernah menonton. Baca entri selengkapnya »

"Antichrist" - liveforfilms.com

Sepanjang pengalaman pendek menonton film, saya tak pernah merasa begitu dihantui oleh adegan pembuka seperti ketika menekuri “Raging Bull” dan “Antichrist”, dua karya yang terpaut nyaris dua dekade bikinan dua sutradara termasyhur beda generasi, Martin Scorsese dan Lars von Trier. Jika nama pertama begitu keukeuh mengajukan tema-tema tentang identitas Italia-Amerika dan kekerasan, yang kedua tak pernah abai menjadikan gambar-gambarnya sebagai tamsil yang berpusat pada keperempuanan.

“Raging Bull” dimainkan oleh Robert “Bobby” de Niro sebagai pemeran utama. Ia menerjemahkan karakter mantan petinju Jake LaMotta dengan brilian – pun rela makan es krim sejadi-jadinya hingga berat badannya melonjak puluhan kilogram, demi peran. Sementara “Antichrist” memberi tempat bagi si mata elang Willem Dafoe, dan Charlotte Lucy Gainsbourg yang senantiasa terkesan rapuh.

Film Scorsese itu telaten bercerita tentang karut-marut kehidupan personal dan profesional petarung LaMotta. Sementara “Antichrist” secara murung mengilustrasikan teror mental yang dialami sepasang suami-istri pasca kematian anak mereka. Pikiran spontan yang muncul ketika melihat bagian-awal kedua film itu: kok bisa ya gambar begitu puitis?  Baca entri selengkapnya »

Adegan dalam "Blue Valentine" (starpulse.com)

Hubungan gagal yang ditampilkan dalam suatu film selalu sulit untuk ditonton, apalagi jika sudah menyangkut perkawinan. Ada perasaan risau ketika menyadari bahwa aspek tragis itu akan begitu mengganggu: hancurnya harapan sang pasangan akan kehidupan yang “bahagia selamanya.”

Kita masih mengingat dampak dari perpisahan yang bikin boyak pasangan Ted Kramer (Dustin Hoffman) dan Joanna Kramer (Meryl Streep) dalam “Kramer vs Kramer” (1979). Atau upaya karakter ayah Robin Williams pada “Mrs Doubtfire” (1993) yang menyamar sebagai juru bersih-bersih di rumah mantan istrinya demi terus bisa dekat dengan anaknya. Dan dalam kedua film, anak yang kebingungan dengan situasi orang tua mereka menajamkan sisi tragis hubungan gagal.

“Blue Valentine” punya semangat menyebarkan kecemasan yang sama. Disutradarai oleh Derek Cianfrance, “Blue Valentine” berkisah tentang pasangan Dean (Ryan Gosling) dan Cindy (Michelle Williams) dengan latar belakang kota Brooklyn dan Pennsylvania yang sederhana dan disesaki kelas pekerja. Dean, tak pernah kelar SMA, bekerja di perusahaan pengangkutan – biasa disewa mereka yang ingin pindah rumah, dan Cindy sedang sekolah keperawatan. Keduanya sedang di awal duapuluhan, usia yang selalu cocok bagi cinta keras kepala.

Baca entri selengkapnya »

Poster film Inside Job (scepticblog.com)

Dunia enggan melupakan isyarat tubuh dan tekanan suara Gordon Gekko pada “Wall Street” (1987) ketika ia mendenguskan kata-kata yang kini nyaris menjadi adagium, “Rakus itu bagus.” Film karya Oliver Stone itu seolah jadi artefak keramat bagi mereka yang ingin ‘sedikit’ memahami karakter para makelar-makelar saham kelas satu di New York, yang kerap disebut Tuan Semesta. Dan agaknya kini ‘Gekko’ menemukan penerjemahan sempurna akan kebengisannya justru bukan pada sequel film Stone, “Wall Street: Money Never Sleeps” (2010), namun pada “Inside Job”.

Pada tahun 2008, Amerika Serikat menyaksikan kebangkrutan Lehman Brothers, yang lantas menyeret dunia ke dalam krisis ekonomi. Negeri itu lalu jatuh ke dalam resesi yang bikin cemas, terparah setelah Great Depression di awal abad ke-20. Dalam “Inside Job”, Charles Ferguson, sang sutradara film dokumenter itu, menjalin pertemuan demi pertemuan dengan banyak petinggi di Wall Street dan Washington serta beberapa guru besar ekonomi Harvard, Columbia Business School, untuk menyebut satu-dua nama, demi mendapatkan ‘pencerahan’ atas bagaimana krisis bisa terjadi dan mengapa sistem keuangan remuk. Baca entri selengkapnya »

Kemelut di Ujung Benua

16 Maret 2011

Salah satu adegan di "How I Ended This Summer" (hollywoodchicago.com)

Dua lelaki beda generasi bertemu di sebuah stasiun cuaca milik Rusia. Di sekeliling mereka hanya salju yang menjejalkan dingin ke udara. Lelaki pertama bernama Sergei (Sergei Puskepalis).

Lelaki kedua, Pavel (Grigory Dobrygin). Usia yang pertama sekitar akhir empatpuluhan; sementara yang kedua awal duapuluhan. Mereka berada dalam situasi pelik.

Pekerjaan Pavel dan Sergei adalah mengamati kecepatan angin, gugusan awan, dan suhu udara. Selain itu, mereka juga mesti mencatat tingkat radiasi di pulau itu. Pada interval tertentu, mereka melaporkan hal-ihwal cuaca ke pusat meteorologi melalui radio panggil:  ”Archym calling fairy…

Baca entri selengkapnya »

Cinta Pada Sepotong Mimpi

13 Oktober 2010

Sonja Richter (Sumber: imageshack.us)

Tak ada yang ganjil pada suatu kebetulan: Bersama dengan teman SMA pada sebuah lift 20 tahun setelah kelulusan; menyeberangi Selat Sunda dalam satu kapal dengan bekas pacar setelah beranak dua; seorang guru SD yang dirawat bekas muridnya di rumah sakit umum. Konon, dunia selalu memberi ruang bagi kebetulan-kebetulan. Tapi, apakah memimpikan seseorang yang sama setiap hari selama bertahun-tahun termasuk di antaranya?

Karen (Sonja Richter) bekerja sebagai fotografer mode yang nyaris jarang bercengkerama dengan suami dan anak perempuannya. Ia lebih sering meluangkan waktunya untuk melancong ke kota-kota utama Eropa, yang pada akhirnya semakin mengoyak jarak antara ia dengan negeri asalnya, Denmark, tempat tinggalnya. Hidupnya seolah-olah terekat pada kamera digitalnya, serta kopor kecil yang siap dijinjing ke mana pun. Baca entri selengkapnya »

Salah satu scene dalam film "Jaffa" (Sumber:wjff.pl)

Sejumlah kota ditakdirkan menikmati kehidupannya dengan menjadi saksi bagi mereka yang saling mencinta. Siapa bisa melupakan Jakarta di sepanjang alur “Ada Apa dengan Cinta”? Rangga dan Cinta bahkan sempat menjadi pengganti kata benda bagi lema asmara.

Kau juga kukira takkan sudi berpaling pandang dari “Breakfast at Tiffany’s”. Adegan terakhir di muka sebuah lorong sembab kota New York yang dibasuh hujan tak kunjung menjenuhkan penontonnya: Holly dan Paul berpelukan dalam lindungan irama “Moon River” tanpa cela. Baca entri selengkapnya »

Aku dan Kau

14 April 2010

Seorang teman pernah bilang bahwa suatu hubungan itu laiknya sebuah proyek yang mesti terus dinilai-ulang dan direka-pandang berbagai seginya. Menganggap kalau semuanya akan berjalan seperti ketika kita memulainya sama menyesatkannya dengan berpikir bahwa kedirian kita tidak, dan takkan, pernah berubah. Ia serupa jalan di dekat rumah. Meski kita sudah melaluinya nyaris sepanjang hayat, kita hampir tak mungkin selalu meniti garis yang sama. Kadang kita melenceng agak ke kiri; kadang kita ambil jalan memutar.

Suatu hubungan dengan demikian senantiasa menyalin kembali gairah bermain kejar-dan-tangkap dengan karakter, yang tentu saja taktunggal. Hari-hari ini, ketika banyak orang kian nyaman dengan monolog, karakter seakan-akan hanya direduksi menjadi indeks. Ia bukan dilihat sebagai bagian penting dari proses percakapan. Ia hanya sebuah pelengkap dari kehendak untuk mengukuhkan narsisisme: orang lain ada hanya ketika ia diperlukan. Dengan kata-kata Subagio Sastrowardoyo di puisinya ‘Nada Awal’: “di ruang kelam ada yang merasa kehilangan dan mengaduh pedih.” Baca entri selengkapnya »