Ranjang Besi
14 April 2010
Garin Nugroho tak hanya piawai menggarap film. Komposisi tarinya mampu pula menciptakan ekstase visual. Setidaknya, mereka yang menonton pertunjukan tari “The Iron Bed” pada malam pembukaan The 9th Indonesian Dance Festival (27-31 Oktober 2008) di Graha Bhakti Budaya (GBB) TIM, Selasa 28 Oktober 2008 malam, sudi menjadi saksi.
“The Iron Bed” berpusat pada kisah tentang Siti, gadis ayu yang menikah dengan Setio, pengkutbah pengelana yang dimainkan secara elegan oleh Martinus Miroto. Pernikahan mereka senantiasa dianiaya oleh kehadiran seorang preman bernama Ludiro (Eko Supriyanto).
Hanya berdiam diri di rumah, Siti nan anggun itu cuma bisa leyeh-leyeh di kamar, atau melakukan pekerjaan rumah harian lainnya. Situasi ini menyediakan celah bagi Ludiro, yang kerap mampir menyamar sebagai satria digdaya yang terhormat, untuk merayunya. Tak butuh waktu lama, Siti terpikat bujukan sang pendekar gadungan.
Konflik menjadi semakin tajam ketika seekor monyet, yang selalu menemani Setio, jatuh hati pada adik perempuan Ludiro. Sang monyet, yang telah mencium aroma perselingkuhan Ludiro dan Siti, terjebak dalam obsesi: tetap loyal pada juragannya, dan birahi pada adik perempuan Ludiro. Baca entri selengkapnya »