Abai
16 Maret 2011
Sejarah penuh dengan pengabaian. Di dekat kita di Jakarta, pada suatu masa, seseorang yang pernah menjabat sebagai seorang presiden dirumahkan sendirian. Ia, yang pada zamannya menjadi kebanggaan khalayak karena karisma dan kecerdasannya, harus melalui akhir kehidupannya jauh dari kehangatan keluarga. Dan pada akhirnya, proklamator itu, yang sebagian waktunya habis dalam penjara dan pembuangan Belanda, meninggal di pengasingan didampingi kedua karibnya, Hatta dan Ali Sadikin.
Pun kita bisa menengok wilayah dalam-tembok Batavia, yang kini dikenal dengan Kota Tua. Pada Abad 17, ketika Jayakarta baru saja ditaklukkan oleh Jan Pieterszoon Coen dan diubah namanya menjadi Batavia, VOC mengendalikan perdagangan dan membangun daerah itu. Dermaga besar diwujudkan. Pusat pemerintahan dibakukan. Nama kota ini berjaya hingga ke benua. Baca entri selengkapnya »
Dari Pasar Minggu ke Cinema Paradiso
14 April 2010
Tempo hari, ada kawan yang mengabarkan bahwa bioskop Nirwana yang legendaris di Pasar Minggu itu sudah tutup. Semakin berkurangnya penonton yang datang agaknya menjadi sebab mutlak. Konon, ruang pengap itu akan ditata ulang dan dibuat lapangan futsal.
Saya belum tahu itu kabar sahih atau tidak. Tapi, pastinya, ingatan saya sontak terlempar ke dekade awal 1990an: Masa kejayaan si bioskop yang sungguh nafsu memutar film-film setengah biru. Hari-hari itu, saya dan teman-teman sebaya yang baru akil balig secara rutin di awal bulan, selama kira-kira setahun, mengantri di loketnya yang kusam untuk menyimak film-film berjudul ajaib!
Itu adalah masa-masa ketika menonton bioskop, secara beramai-ramai, punya kekuatan lebih biarpun cerita-cerita yang ditembakkan di layar sungguh tak masuk akal. Itu adalah tahun-tahun penuh gejolak ketika duduk di belakang dan terangsang selalu bisa bikin girang. Pada mulanya adalah proyektor, memang, yang mampu menggiring kami menjadi ‘dewasa’ lebih dini. Baca entri selengkapnya »
Kota yang Menyempit
14 April 2010
Kota ada karena suatu sebab. Jakarta bisa jadi misal. Sejak Jan Pieterszoon Coen, yang setengah keki dengan orang Banten dan Inggris, memindahkan kantor VOC dari Banten ke Jakarta, tempat ia akhirnya membangun pertahanan, Jakarta jadi situs ramai untuk jual-beli. Banyak pendatang dari pulau seberang mondar-mandir ke ‘tanah harapan’ ini demi memperluas jaringan perniagaan. Para Tionghoa dan saudagar Yaman meruyak-masuk pula ke antero Jakarta.
Kian hari, kota lama kian sesak. Pemerintah kolonial mengeluarkan kebijakan untuk mendeportasi warga Tionghoa ke negara asalnya. Tapi isu pecah. tersiar warta bahwa mereka yang dideportasi dibunuh di tengah pelayaran dan dibuang ke laut. Pemberontakan meledak. Ribuan Tionghoa dibantai. Kali jadi merah – angke. Sisa peranakan Tionghoa dialihkan ke Glodok yang terletak di luar tembok. Jakarta kemudian memelarkan diri, ke arah selatan, memanjang dari Medan Merdeka (sekarang) hingga Kebayoran Baru, bagian kota terakhir gubahan londo. Warga kota berkembang-biak. Jalanan makin suntuk mengangkut mereka yang menghidupkan kota itu.
Problem kolonial dalam mengelola ruang perkotaan agaknya masih berjalan hingga kini. Kita ingat kota lama pernah menelan akibat dari populasi yang berkembang tanpa kendali. Drainase tak mampu lagi menampung limbah dari kota. Air menggenang memancing virus pes untuk menjangkiti warga. Ribuan jadi mayat. Eropa mengumumkan larangan berkunjung ke Jakarta bagi warganya. Baca entri selengkapnya »
Kota Buta
14 April 2010
Pada mulanya seorang pengendara mobil di simpang utama kota. Lalu, seorang dokter mata. Tak lama berselang, pria sok jujur yang kerap mencuri kendaraan. Kemudian, sesosok pelacur berkaca mata hitam, sekelompok tentara, polisi, supir taksi serta, pada puncaknya, penduduk satu kota.
“Emangnya, orang-orang itu kenapa, Mas?” tanya sepupu saya. “Buta, mereka seakan-akan tenggelam dalam lautan susu,” timpal saya. Dan sepupu saya sontak nyengir-nyengir kuda sambil menimpuk saya dengan kaos kakinya yang baunya amat tersohor itu. “Ini serius,” kata saya, “satu kota beneran mendadak buta.” Lalu, dia terdiam, mencomot beberapa potong french fries, dan bertanya, “Di mana gitu?” sambil mencocolkan kentang goreng yang digenggamnya ke saus tomat. “Di Blindness, novelnya Jose Saramago,” jawab saya sambil ngeloyor dan menghindar dari puluhan potong gorengan kentang yang dilemparkan sepupu saya. “Sial” hardiknya.
And the story goes… Baca entri selengkapnya »
Ini Kota Punya Siapa?
14 April 2010
Lonceng depan kelas belum lagi bersuara. Tiga anak berseragam SD di sebuah daerah dekat Kalibata berhimpun di pokok pohon Jamblang. Wajah girang mereka mendongak, seperti menanti tetes-tetes hujan tumpah pada lidah. Mereka ungu, pagi itu, tertular warna si buah langka. Kemeja putih mereka serupa kertas yang tertumbuk bocoran tinta bolpoin. Mereka tahu seorang guru akan sangat murka melihatnya. Tapi, mereka juga sadar saya punya alasan yang bisa menghindarkan mereka dari hukuman maha menjengkelkan.
Selepas Zuhur, seorang lelaki di awal 50 tahun berkulit tembaga biasanya akan singgah di rerindang pohon itu. Ia akan meletakkan lincak dagangannya, yang biasa ia sampirkan di bahu, di hadapannya. Wajahnya meminjam Sudirman, pahlawan favorit kami yang ringkih itu. Kami suka sekali duduk dekat dengannya untuk mendengarkan kisah-kisah tentang kampung kami: hantu kuburan, tetua yang memiliki kekuatan gaib, binatang sungai yang pandai menyamar – segala hal-ihwal yang dicintai anak-anak.
Kadang, dua orang kakek duduk di bangku dekat pohon itu, selepas senja. Merokok. Sesekali mereka bertukar kata yang sukar betul ditangkap. Saya pernah bertanya apakah pak lincak tahu tentang itu. Ia mengangguk. Dua renta itu pernah menyukai perempuan yang sama, ketika keduanya telah beristri. Masing-masing mereka kerap bertemu dengan si gadis di dekat pohon itu. Perempuan itu tak memilih salah satunya. Ia memutuskan tidak menikah untuk alasan yang tak pernah diceritakan pak lincak. Baca entri selengkapnya »
