Discus, Si Langka Digdaya
14 April 2010
Musik yang bagus senantiasa berupaya melampaui batas-batas. Ia mengandaikan terbangunnya hubungan yang intens antara pemusik, instrumen yang dimainkan, lagu, dan pendengar, tanpa mengenal kelas yang mengkotak-kotakkan suatu kaum. Ia bisa selalu menggetarkan sekaligus menggentarkan pendengarnya tanpa ancang-ancang.
Dan Discus menawarkan itu kepada para pendengarnya itu di teater Black Box Salihara, pada 5 November 2008, dalam rangkaian acara Festival Salihara yang berlangsung pada 17 Oktober – 6 Desember 2008 di Jalan Salihara 16 Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kelompok yang didirikan Iwan Hasan dan Anto Praboe pada tahun 1995 itu seakan menjepit telinga penonton dengan progresi kord yang rumit dan aransemen luar biasa kaya. Baca entri selengkapnya »
Teumeumeung di Salihara
14 April 2010
Nasidroe aneuk di moe si at at
Lam jeut jeut saat… saat dua ngeon poma
Di tanyeong bak ma….. bak ma…, Ayah jinoe pat hai jinoe pat
Ulon rindu that rindu that keuneuk eu rupa…
Nyoe mantoeng hudep meupat alamat
Uloen jak seutoet… jak seutoet ‘oeh watee raya
Nyoe ka meuninggai……. meuninggai, Meupat keuh jeurat ee jeurat
Uloen jak siat… jak siat loen baca doa
(Aneuk Yatim – Rafly)
Ketika memasuki ruang remang itu, tak ada ruap aroma kopi Aceh atau kari kambing yang menantang selera. Menapaki jalan menuju ruang remang itu, tak ada penyambut tamu yang menawarkan timphan asoe kaya atau roti jala khas provinsi di ujung barat Indonesia. Walau demikian,para tetamu mengerti bahwa mereka sedang memasuki ‘Aceh’, memasuki ‘deritanya yang nyaris tak menemukan jeda.’
Ruang remang itu tak lain aula Teater Salihara, Jalan Salihara 16, Pejaten Barat, Jakarta Selatan. Dan ‘ke-Aceh-an’ yang terlalu kental di ruangan itu tercipta oleh vokal Rafly KANDE nan khas, yang berkolaborasi dengan Dwiki Dharmawan, dalam sebuah pertunjukan kontemplatif berjudul “Teumeumeung” di gedung pertunjukan anyar tersebut, Sabtu, 20 September 2008. Baca entri selengkapnya »