‘Ghetto’ dan Kita

14 April 2010

Hongaria, di suatu musim semi yang berbau mesiu tahun 1944. Tak ada lagi sinagoga dengan pintu terbuka. Orang-orang berkumpul di rumah pribadi: makan, minum, menyanyi. Kitab suci mengundang para Yahudi itu bersuka cita selama tujuh hari. Dan mereka pun bahagia, meski hanya sandiwara.

Pada hari ketujuh Jerman mulai menahan pemimpin-pemimpin masyarakat Yahudi. Sejak saat itu, maut mewujud. Orang Yahudi tak diizinkan meninggalkan rumahnya selama tiga hari. Pelanggaran diancam hukuman mati.

Tak lama, tiap Yahudi di situ, satu kota kecil bernama Sighet, mesti memakai bintang kuning. Mereka tak lagi boleh memasuki rumah makan, kedai minum, menumpang kereta api atau beribadah di sinagoga. Baca entri selengkapnya »