Celeng Bermoncong Darah

14 April 2010

‘Ada pepatah lama, Tuan-tuan, di kalangan pedagang di pasar Macellum, bahwa ikan membusuk mulai dari kepala ke ekor, dan jika ada yang busuk di Roma saat ini-dan siapa yang meragukan hal itu?-terang-terangan aku mengatakan bahwa kebusukan itu dimulai dari kepala. Kebusukan itu dimulai di puncak. Kebusukan itu dimulai di senat.’

Ia yang mengungkapkan itu sungguh pasti seseorang dengan karakter kuat dan integritas tinggi. Ia mesti bukan seseorang yang cuma menghayalkan segala hal dari belakang meja. Namun, seandainya saja dugaan ini salah, setidaknya ia memiliki jendela kamar kerja yang bertetangga dengan los pasar ikan yang amis dan riuh dengan teriakan dan percakapan, yang membuatnya mampu mendengarkan cakap para pedagang.

Kiranya kita juga takkan sungkan membayangkan bahwa si penguar kata-kata itu sangatlah berpengaruh. Nada yang meruap dari kalimat-kalimatnya sungguh tak menyiratkan adanya ketakutan, jika bukan wibawa. Apalagi jika mempertimbangkan perkataan selanjutnya: ‘Dan hanya satu hal yang pantas dilakukan pada kepala ikan yang busuk dan bau, kata para pedagang (di pasar), yakni memotongnya dan membuangnya! Tapi diperlukan pisau yang baik untuk memenggal kepala itu, karena ini kepala aristokrat, dan kita semua tahu seperti apa kepala itu! Kepala itu bengkak akibat racun korupsi dan menggembung oleh sikap angkuh dan pongah. Diperlukan tangan yang kuat untuk menggunakan pisau itu, juga saraf yang mantap, karena leher mereka terbuat dari kuningan.’ Baca entri selengkapnya »