Pada dermaga itu, orang-orang – perempuan dan lelaki, ayah dan suami, atau para kanak yang mendurhakai bapak dan emaknya – menyerahkan hidup mereka pada bentang cakrawala. Leher-leher yang gelisah siap disembelih. Mata merayap pada pucuk bedil. Sepatu lars beradu deru dengan gelombang Selat Ombai. Kalender menunjuk Desember 1975.

Seorang kulit putih berpakaian khaki diseret dua tentara ke bibir kade. Ia memekakkan udara pelabuhan yang anyir dengan teriakan, “Saya seorang Australia. Saya seorang Australia.” Sebagai latar belakang, orang-orang berlutut pada lantai dan mengingat doa-doa. Seorang petinggi militer Indonesia dengan safari cerah melakukan inspeksi di antara para teraniaya. Baca entri selengkapnya »