Tempo hari, ada kawan yang mengabarkan bahwa bioskop Nirwana yang legendaris di Pasar Minggu itu sudah tutup. Semakin berkurangnya penonton yang datang agaknya menjadi sebab mutlak. Konon, ruang pengap itu akan ditata ulang dan dibuat lapangan futsal.

Saya belum tahu itu kabar sahih atau tidak. Tapi, pastinya, ingatan saya sontak terlempar ke dekade awal 1990an: Masa kejayaan si bioskop yang sungguh nafsu memutar film-film setengah biru. Hari-hari itu, saya dan teman-teman sebaya yang baru akil balig secara rutin di awal bulan, selama kira-kira setahun, mengantri di loketnya yang kusam untuk menyimak film-film berjudul ajaib!

Itu adalah masa-masa ketika menonton bioskop, secara beramai-ramai, punya kekuatan lebih biarpun cerita-cerita yang ditembakkan di layar sungguh tak masuk akal. Itu adalah tahun-tahun penuh gejolak ketika duduk di belakang dan terangsang selalu bisa bikin girang. Pada mulanya adalah proyektor, memang, yang mampu menggiring kami menjadi ‘dewasa’ lebih dini. Baca entri selengkapnya »

Kota Buta

14 April 2010

Pada mulanya seorang pengendara mobil di simpang utama kota. Lalu, seorang dokter mata. Tak lama berselang, pria sok jujur yang kerap mencuri kendaraan. Kemudian, sesosok pelacur berkaca mata hitam, sekelompok tentara, polisi, supir taksi serta, pada puncaknya, penduduk satu kota.

“Emangnya, orang-orang itu kenapa, Mas?” tanya sepupu saya. “Buta, mereka seakan-akan tenggelam dalam lautan susu,” timpal saya. Dan sepupu saya sontak nyengir-nyengir kuda sambil menimpuk saya dengan kaos kakinya yang baunya amat tersohor itu. “Ini serius,” kata saya, “satu kota beneran mendadak buta.” Lalu, dia terdiam, mencomot beberapa potong french fries, dan bertanya, “Di mana gitu?” sambil mencocolkan kentang goreng yang digenggamnya ke saus tomat. “Di Blindness, novelnya Jose Saramago,” jawab saya sambil ngeloyor dan menghindar dari puluhan potong gorengan kentang yang dilemparkan sepupu saya. “Sial” hardiknya.

And the story goes… Baca entri selengkapnya »

Ini Kota Punya Siapa?

14 April 2010

Lonceng depan kelas belum lagi bersuara. Tiga anak berseragam SD di sebuah daerah dekat Kalibata berhimpun di pokok pohon Jamblang. Wajah girang mereka mendongak, seperti menanti tetes-tetes hujan tumpah pada lidah. Mereka ungu, pagi itu, tertular warna si buah langka. Kemeja putih mereka serupa kertas yang tertumbuk bocoran tinta bolpoin. Mereka tahu seorang guru akan sangat murka melihatnya. Tapi, mereka juga sadar saya punya alasan yang bisa menghindarkan mereka dari hukuman maha menjengkelkan.

Selepas Zuhur, seorang lelaki di awal 50 tahun berkulit tembaga biasanya akan singgah di rerindang pohon itu. Ia akan meletakkan lincak dagangannya, yang biasa ia sampirkan di bahu, di hadapannya. Wajahnya meminjam Sudirman, pahlawan favorit kami yang ringkih itu. Kami suka sekali duduk dekat dengannya untuk mendengarkan kisah-kisah tentang kampung kami: hantu kuburan, tetua yang memiliki kekuatan gaib, binatang sungai yang pandai menyamar – segala hal-ihwal yang dicintai anak-anak.

Kadang, dua orang kakek duduk di bangku dekat pohon itu, selepas senja. Merokok. Sesekali mereka bertukar kata yang sukar betul ditangkap. Saya pernah bertanya apakah pak lincak tahu tentang itu. Ia mengangguk. Dua renta itu pernah menyukai perempuan yang sama, ketika keduanya telah beristri. Masing-masing mereka kerap bertemu dengan si gadis di dekat pohon itu. Perempuan itu tak memilih salah satunya. Ia memutuskan tidak menikah untuk alasan yang tak pernah diceritakan pak lincak. Baca entri selengkapnya »