Sepanjang pengalaman pendek menonton film, saya tak pernah merasa begitu dihantui oleh adegan pembuka seperti ketika menekuri “Raging Bull” dan “Antichrist”, dua karya yang terpaut nyaris dua dekade bikinan dua sutradara termasyhur beda generasi, Martin Scorsese dan Lars von Trier. Jika nama pertama begitu keukeuh mengajukan tema-tema tentang identitas Italia-Amerika dan kekerasan, yang kedua tak pernah abai menjadikan gambar-gambarnya sebagai tamsil yang berpusat pada keperempuanan.
“Raging Bull” dimainkan oleh Robert “Bobby” de Niro sebagai pemeran utama. Ia menerjemahkan karakter mantan petinju Jake LaMotta dengan brilian – pun rela makan es krim sejadi-jadinya hingga berat badannya melonjak puluhan kilogram, demi peran. Sementara “Antichrist” memberi tempat bagi si mata elang Willem Dafoe, dan Charlotte Lucy Gainsbourg yang senantiasa terkesan rapuh.
Film Scorsese itu telaten bercerita tentang karut-marut kehidupan personal dan profesional petarung LaMotta. Sementara “Antichrist” secara murung mengilustrasikan teror mental yang dialami sepasang suami-istri pasca kematian anak mereka. Pikiran spontan yang muncul ketika melihat bagian-awal kedua film itu: kok bisa ya gambar begitu puitis? Baca entri selengkapnya »
