Seorang pria duduk termenung di beranda sebuah rumah di New Addington, sebuah kota yang dibentengi oleh pedesaan di sekitar London selatan. Tubuhnya terbalut aroma alkohol. Gigi-geliginya lengket oleh opium. Kedua lengannya tersaput darah serta angin Februari yang basah dan menyisakan gigil.

“Ya, yang di dalam itu istriku. Aku telah membunuhnya,” katanya setengah bergumam. Seperti diberitakan oleh situs berita Independent pada tanggal 17 Oktober 2008–hari ketika si lelaki divonis hukuman seumur hidup–suami penuh cemburu bernama Wayne Forrester itu membunuh istrinya karena sebuah posting di situs jejaring sosial Facebook.

Menurut pengakuan Wayne kepada polisi, hatinya hancur ketika memergoki sang istri mengubah status dirinya menjadi ‘lajang.’ “Aku cinta Emma dan sungguh merasa hancur sekaligus malu atas apa yang telah ia lakukan,” katanya. Baca entri selengkapnya »

Sekeping koin, oleh suatu kaum, patutlah dianggap sebagai peretas jalan menuju ‘kebebasan’. Setidaknya jika kita berpaling kepada Charon, sang pendayung kapal di Sungai Acheron yang tersampir pada mitologi Yunani. Charon, demikian kisah diriwayatkan, mengantar jiwa si mati menyeberangi Acheron, kali yang membatasi dunia dan alam baka. Ongkosnya berwujud koin yang biasanya dihantarkan di mulut si mati. Mereka yang tak sanggup membayar, konon, mesti hilir-mudik di tepian sungai selama 100 tahun.

Indonesia juga mengenal kisah serupa, meminjam bentuk berbeda, dengan seorang ibu beranak dua sebagai lantaran. Si ibu, begitulah sohibul cerita, adalah korban dari sistem pelayanan kesehatan yang agak tak acuh dengan keterbukaan. Ia merajuk dan mengabarkan kecewanya dengan mengirim surat elektronik kepada karibnya. Dunia melek akan deritanya. Pada waktu yang sama, rumah sakit yang ia rujuk murka, dan menggugatnya. Ia dituntut membayar ganti-rugi atas hal yang takpernah ia maksudkan.

Orang-orang marah, dan merasa apa yang si ibu alami bisa mendera mereka.  Kata solidaritas, yang telah begitu lama terkotori oleh politik-uang, seakan menemukan lagi bentuknya yang sempurna. Mereka sepakat mengumpulkan uang buat perempuan itu melalui sebuah gerakan. Koin Keadilan, nama kampanye itu. Negeri ini pun seketika terkubur dalam gemerincing gobang dari mereka yang peduli. Baca entri selengkapnya »

Neraka Facebook

14 April 2010

Orang lain adalah neraka, ujar Jean-Paul Sartre suatu ketika. Namun, neraka dengan syarat: bahwa suatu hubungan yang dirajut kemudian dipiuh sedemikian rupa, dimanipulasi segala aspeknya.

Si pemikir perokok itu mungkin saja benar. Siapa pula yang akan tahan jika suatu hubungan selalu dilabeli dengan ‘harga’ tertentu, bahkan di zaman peka teknologi seperti kini. Dan Facebook pun tak bisa lepas diri.

Situs jejaring sosial ini ditemukan oleh Mark Zuckerberg, si kriwil kreatif yang memilih berhenti kuliah dari Universitas Harvard. Ia berhasil mengubah Facebook dari sekadar situs jejaring sosial kelas dua menjadi sebuah platform yang mampu mengorganisir Internet. Namanya bahkan nyaris disejajarkan dengan para visioner lain seperti Steve Jobs, pendiri Apple, dan Bill Gates, perintis Microsoft. Bahkan, transformasi ini dikomentari oleh Marc Andreessen, pendiri Netscape sekaligus anggota dewan direksi Facebook, sebagai “salah satu tonggak terpenting dalam industri teknologi dekade ini.”

Tak sedikit yang menyangkal berkah dari diciptakannya Facebook. Fasilitas tersebut telah membuat apa yang sangat sulit terjadi di dunia nyata menjadi mungkin di jagat Internet. Kerinduan yang amat akan pertemuan dengan sobat-sobat lama yang guyub semasa sekolah dapat tertunaikan, meskipun hanya lewat monitor notebook atau komputer rumahan. Seperti yang terjadi dengan Mark Jackson dan Marlee Wallingford. Baca entri selengkapnya »