Cinta di Panggung Miring
13 Mei 2011
Jay Subiyakto tahu cara mengemas pementasan menjadi suatu peristiwa. Dengan kecakapan menerjemahkan gagasan sekaligus visi tajam, ia tak ragu mengubah panggung ‘tradisional’ menjadi lebih kompleks dan berdimensi majemuk. “Usaha keras perlu bagi pentas yang bagus,” tukasnya.
Kejeliannya menyiasati ruang dapat Anda nilai pada pertunjukan tari “Matah Ati” yang akan berlangsung pada 13-16 Mei, 2011, pukul 20.00 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Bermakna secara harfiah “melayani hati sang pangeran,” naskah “Matah Ati” serta koreografi tari dikerjakan oleh Atilah Soeryadjaya, cicit Sultan Mangkunegara VII.
Jika maestro penataan artistik pentas Indonesia, Rudjito, menganggap bahwa sederhana itu indah, Jay agaknya memilih menjauh dari pandangan itu. Kompleksnya tata panggung garapannya mensyaratkan presisi tinggi seorang tukang dan perhitungan matang seorang dokter. Dan demi memberikan penekanan kuat pada sisi artistik, ia menyiapkan instalasi tak kalah memikat demi mengisi panggung. Kematangan rancangan lantas menghasilkan sebuah panggung yang teramat berwarna, seperti karnaval. Baca entri selengkapnya »
Ranjang Besi
14 April 2010
Garin Nugroho tak hanya piawai menggarap film. Komposisi tarinya mampu pula menciptakan ekstase visual. Setidaknya, mereka yang menonton pertunjukan tari “The Iron Bed” pada malam pembukaan The 9th Indonesian Dance Festival (27-31 Oktober 2008) di Graha Bhakti Budaya (GBB) TIM, Selasa 28 Oktober 2008 malam, sudi menjadi saksi.
“The Iron Bed” berpusat pada kisah tentang Siti, gadis ayu yang menikah dengan Setio, pengkutbah pengelana yang dimainkan secara elegan oleh Martinus Miroto. Pernikahan mereka senantiasa dianiaya oleh kehadiran seorang preman bernama Ludiro (Eko Supriyanto).
Hanya berdiam diri di rumah, Siti nan anggun itu cuma bisa leyeh-leyeh di kamar, atau melakukan pekerjaan rumah harian lainnya. Situasi ini menyediakan celah bagi Ludiro, yang kerap mampir menyamar sebagai satria digdaya yang terhormat, untuk merayunya. Tak butuh waktu lama, Siti terpikat bujukan sang pendekar gadungan.
Konflik menjadi semakin tajam ketika seekor monyet, yang selalu menemani Setio, jatuh hati pada adik perempuan Ludiro. Sang monyet, yang telah mencium aroma perselingkuhan Ludiro dan Siti, terjebak dalam obsesi: tetap loyal pada juragannya, dan birahi pada adik perempuan Ludiro. Baca entri selengkapnya »
Tarian Cinta Hartati
14 April 2010
Hubungan termudah bagiku adalah dengan sepuluh ribu orang, ungkap Joan Baez, sang penyanyi perempuan legendaris itu, namun yang paling sulit adalah hubungan dengan satu orang.
Itu mungkin isu serupa yang ingin diungkapkan oleh Hartati, Koreografer asal Solok, Sumatera Barat, dalam karya tari ‘Cinta Kita’ sebagai bagian dari program Empowering Women Artist yang didanai oleh Yayasan Kelola dan Hivos. Pertunjukan tari tersebut dipentaskan di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta pada Jumat (24/10) dan Sabtu (25/10).
Pada karyanya kali ini, Hartati membagi pertunjukan dalam tiga bagian, yang secara penuh berjalan kurang dari satu jam. Bagian pertama menampilkan duet penari pria (Theodorus Christanto) dan perempuan (Ratna Ully). Pada bagian ini, Hartati mengeksplorasi masalah yang sebenarnya sudah cukup klise: kekalutan sekaligus kegairahan yang timbul dalam merajut sebuah hubungan, terutama antara lelaki dan perempuan. Baca entri selengkapnya »