Mencari Kali di Diri
16 Mei 2010
“Anda punya kali?” tanya perempuan itu dalam keraguan dan ketakutan. ”Kali-kali menciut,” rutuknya, ”Kali-kali raib.”
Dalam intonasi timpang, Mona Sylviana mengisi suara perempuan itu dengan keperihan yang nyaris mewakili kekelaman pada ”Hujan Mencari Kali”, sebuah repertoar produksi Studio Hanafi dan Institut Nalar Jatinangor yang terpaksa dihadirkan dua kali pada Selasa (11/5) karena ruang tak sanggup menampung beludak penonton. Sepanjang pertunjukan, narasi yang ditembakkan ke panggung oleh Mona mengatur ritme dan nyawa pementasan.
Tidak hanya menempelkan keaktoran Mona, ”Hujan Mencari Kali” menjadi galeri instan karya instalasi pelukis/perupa Hanafi. Aula Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ), Universitas Padjadjaran, Jatinangor, yang menyemburkan kekakubekuan ruang ala teknokrasi diolah dengan terampil dan kreatif oleh Hanafi sehingga menciptakan sebuah ruang baru. Maka perhatikanlah ini: kerangka wajan berbahan logam berdiameter sekitar 2,5 meter mengambang di tengah aula, seakan-akan menjadi wajah dalam tengadah-sembah. Di bibir panggung, gergaji raksasa ditelentangkan sebagai medium bagi seorang aktris (Astrid) yang memerankan gergasi dalam kostum berwarna, meminjam larik sajak Nirwan Dewanto, ”merah Mao”, untuk mengolah gerak tubuhnya.
”Hujan Mencari Kali”, repertoar arahan Hanafi, Hikmat Gumelar, dan Adinda Luthvianti ini, dibagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama meminjam ruang tepat di bawah kerangka wajan mengambang. Dan bagian terakhir bertempat di sisi yang berseberangan dari naungan wajan, dengan setting panggung yang menyarankan sebuah bangsal rumah sakit. Baca entri selengkapnya »